Jumat, 02 Mei 2014

Sekawanan "serigala kelabu" menggerayangi perairan Nusantara. Untuk apa?

https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSsQsA0sD8yiTbOaiBmJvNcgN926UZT6Tnotdq3SiPVgkBdPwb2

Nationalgeographic (MI) : Embusan angin monsun timur mulai berganti dengan angin monsun barat. Keadaan laut sangat tenang, tidak ada angin dan arus yang dapat membahayakan pelayaran. Sebuah kapal motor bercat putih dengan pelisir biru telah memagut sauhnya di Laut Jawa, 127 kilometer ke arah timur laut dari Kepulauan Karimunjawa, Jawa Tengah.

Kapal itu biasa mengangkut kebutuhan bahan pokok dan sayuran dari Jepara ke Karimunjawa, namun hari itu bukan seperti biasanya. Satu tim penelitian menggunakan kapal motor itu untuk menyelisik bangkai kapal selam yang diduga masih bersemayam di dasar laut. Mereka merupakan para ahli arkeologi dari Pusat Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Yogyakarta, yang bekerja sama dengan Sentra Selam Jogja. Berperanti GPS dengan perangkat sonar, mereka berharap dapat memperoleh gambaran kondisi kontur dasar laut nan akurat dalam bentuk dua dimensi.

Perairan Karimunjawa merupakan kawasan ramai yang dilintasi kapal-kapal berbagai peradaban, karena berada pada sisi paling utara Laut Jawa. Kawasan ini telah ditakdirkan sebagai rute pelayaran utama yang menghubungkan Selat Malaka dan Selat Makassar sejak zaman kerajaan klasik Nusantara hingga kecamuk Perang Dunia II, dan berlanjut hingga kini.

Tim melempar tanda apung permukaan me­nyusul perangkat sonar mereka yang me­nunjukkan gejala aneh pada kontur dasar laut nan membiru. Dua ahli arkeologi muda dari Pusat Arkeologi Nasional, Shinatria Adhityatama dan Ahmad Surya Ramadhan, melakukan penyelaman hingga ke dasar. Sekitar seperempat jam kemudian mereka melepaskan tanda apung permukaan berikutnya: Mereka menemukan bangkai kapal selam!

Bagi mereka, penelitian ini terinspirasi dari novel Shadow Divers karya Robert Kurson yang dibaca keduanya saat masih mahasiswa. Novel itu berkisah tentang petualangan nyata dua orang Amerika yang mempertaruhkan segalanya untuk memecahkan misteri kapal selam Jerman yang hilang.

Bersama seorang instruktur selam profesional, Adhityatama dan Ramadhan mengobservasi sebuah bangkai kapal selam tinggalan Perang Dunia II di kedalaman sekitar 20 meter. Bangkai itu membujur di kawasan karang berpasir yang dihuni dan dicumbui oleh aneka biota laut.

Panjang kapal selam ini sesungguhnya adalah 76 meter, namun hanya tersisa separuhnya, yaitu dari menara komando sampai haluan—sekitar dua setengah kali bus Transjakarta. Repihannya tersebar hingga radius 40 meter. Bahkan, menara komandonya telah terlepas dan terguling ke samping kiri. Sementara keberadaan buritannya hingga kini masih berselimut misteri. Tampaknya bencana ledakan mahadahsyat menjadi penyebabnya.

Ramadhan, yang bersama tim melakukan analisis skenario proses transformasi, meng­­ungkapkan sebuah dugaan. Hantaman tor­pedo mengakibatkan kapal selam terbelah men­jadi dua bagian, demikian menurutnya. “Saat ledakan terjadi mesin di buritan masih menyala,” ujarnya, “kemungkinan bagian buritan itu jatuh ke tempat lain yang lebih jauh atau lebih dalam.” Dia menolak atas kemungkinan hancurnya buritan hingga berkeping-keping dan tak mungkin ditemukan lagi. “Saya tidak yakin kalau hancur sampai habis. Material kapal militer tentunya kuat.”

Bagian dalam kapal selam dapat diakses dari sisa ruang peluncuran torpedo di lambung haluan yang terkoyak. Lubang peluncurnya sudah hilang, sepertinya turut terlepas bersama reruntuhan bagian utama lainnya. Akses alternatif, penyelam bisa masuk melalui pintu palka bulat di bagian tengah.

Dengan diterangi cahaya lampu baterai, dua arkeolog muda itu menyusuri lorong ruang awak atau perwira, ruang radio dan dapur, juga sisa ruang kendali. Kondisi bagian dalam kapal sudah rusak dan bagian langit-langit sudah runtuh. Selain itu, ditemukan indikasi bahwa di dalam kapal selam tersebut pernah terjadi kebakaran. Penjelajahan dalam rongga besi rongsokan ini memang sangat berbahaya, memadukan kegairahan dan kengerian.

“Saya khawatir dinding ambruk dan tersangkut banyak kabel,” ungkap Adhityatama. Dia mengisahkan kepada saya tentang penjelajahan menyelisik kabin kapal selam. “Intinya memang harus hati-hati karena di dalamnya banyak kerangka manusia yang harus dihormati. Kita tidak memindahkan kerangka tersebut. Kita membiarkan di tempatnya sebagai permakaman perang.”
 
Torpedo telah membuat kerusakan cukup hebat pada kapal selam tersebut sekitar 70 tahun silam. Namun, tampaknya kerusakan terus berlanjut oleh aktivitas manusia di tempat itu, seperti penangkapan ikan dengan bahan peledak hingga pencarian besi tua oleh warga sekitar. Tim menduga bahwa isi kapal selam itu sebagian sudah terjamah dan terjarah oleh manusia, jauh sebelum  kedatangan mereka. Bahkan, para ahli arkeologi mendapatkan informasi soal lokasi ini yang bersumber dari warga. “Mungkin tim ini bukan menemukan, tetapi lebih mengidentifikasi,” ucapnya. 

Mereka menemukan sekitar lima kerangka manusia yang tersebar di dua ruangan. Menurut identifikasi tim, kerangka tersebut berasal dari individu lelaki Germanik dengan tinggi badan sekitar 180-188 sentimeter. “Kami menemukan alat selam dan baju pelampung warna kuning yang di dalamnya masih ada tulang belulang,” ujar Adhityatama. “Sepertinya mereka sudah menggunakan alat selam ini, namun gagal untuk keluar dari kapal.”

Selain alat selam, dalam debris kabin ter­singkap juga sebuah harmonika, botol-botol bir, sisa torpedo di bawah tempat tidur, aneka panel listrik. Juga, beberapa barang yang kerap melekat di tubuh awaknya: sol sepatu ukuran 41-42 dan 39-40, binokular, kaca mata pelindung, dan selang pernapasan. Juga, peralatan bersantap seperti cangkir, cawan, dan piring. 

“Sasaran kita adalah dapur. Banyak penelitian tentang kapal selam melakukan identifikasi kapal melalui piring,” ujar Adhityatama. “Di kapal selam itu kami menemukan piring bercap Nazi!”

Mereka berhasil mengangkat dua piring porselen putih dengan bercak noda-noda karat bercampur endapan biota laut. Satu piring berukuran besar bermerek “Jager” yang diproduksi Porzellanfabrik Wilhelm Jager di Eisenberg pada 1939. Lainnya, piring cawan bermerk “Rieber Mitterteich” buatan 1941, yang diproduksi oleh Porzellanfabrik Joseph Rieber & Co. A.G di Bavaria.

Keduanya diproduksi pabrikan Jerman. Bersimbol elang dengan sayap merentang yang bertengger pada lingkaran bersimbol swastika—lambang armada militer Jerman pada masa Hitler—dan huruf “M” yang berarti “Marine” atau laut. Semua simbol-simbol dicap sebelum proses pengglasiran.

Hasil pengindraan lainnya yang bisa dikaitkan dengan identitas awak kapal selam itu adalah sebuah kancing kemeja. Kancing itu berlambang jangkar berlilit tali dengan latar belakang garis-garis horizontal. Inilah salah satu  peranti dalam seragam perwira Kriegsmarine, angkatan laut Jerman yang merupakan bagian dari Wehrmacht, tentara perang milik Nazi Jerman. “Kancing tidak berlambang swastika, meski mereka angkatan laut,” ujar  Adhityatama. “Tidak semua militer Jerman pada saat itu berpaham Nazi, tetapi mereka berperan dalam rezimnya Nazi.”

Temuan tersebut menguatkan dugaan Pusat Arkeologi Nasional bahwa bangkai kapal itu merupakan kapal selam Jerman atau U-Boot (Unterseeboot) yang menemui takdir akhirnya di Laut Jawa. Di kawasan Atlantik dan Pasifik banyak temuan kapal selam serupa, demikian ungkapnya, tetapi selama ini belum ada temuan di Asia. “Mungkin kapal selam Jerman ini merupakan temuan pertama di Asia Tenggara.”

“Kapal selam itu diduga merupakan U-Boot tipe IXC/40,” ujar Adhityatama. Menurut data sejarah, demikian menurutnya, U-Boot yang memasuki perairan Indonesia umumnya bertipe IXC. Temuan lekuk desain haluan juga mengacu pada tipe tersebut. “Tipe IXC adalah tipe jarak jauh yang bisa menjelajahi samudra.”

Jerman mulai membangun U-Boot bertipe ini pada 1940-1944. Jumlah awaknya sekitar 44-56 orang, dengan 4 orang perwira sebagai pemimpin mereka. Kapal selam ini biasanya dipersenjatai dengan senapan anjungan dan mampu membawa 22 buah torpedo. Peluru torpedo ditem­bakkan ke arah musuh melalui enam lubang peluncuran, empat buah di haluan dan dua lainnya di buritan. Dalam sekali pengisian bahan bakar kembali di tengah laut, U-Boot dapat melaju lebih dari 200 hari. Itu pun konsumsi bahan bakarnya masih dianggap tinggi karena beroperasi hampir seluruhnya di permukaan.

Itulah sebabnya U-Boot memiliki bentuk geladak haluan dan buritan yang menyerupai bentuk geladak kapal laut.

“Karena dia cuma mampu di bawah air selama 20 jam maksimal,” ujar Adhityatama sembari menunjuk foto bentuk dek kapal selam Jerman di monitor komputer jinjingnya. Desain seperti kapal masih diperlukan, karena pengisian sistem baterai bersumber dari tenaga diesel, dan itu dilakukan ketika kapal selam berada di permukaan. “Dia butuh bergerak juga saat di permukaan, makanya bentuknya seperti kapal. Kalau kapal selam sekarang bentuknya sudah bulat-bulat.”

Kapal selam Jerman memiliki karakter nama kapal yang diawali huruf “U” dan diikuti nomor urut pembuatan di belakangnya. Armada kapal selam pertama mereka bernomor U-1, yang diluncurkan pada 1935. Pimpinan pertama armada ini adalah Karl Dönitz, saat itu pangkatnya masih letnan kolonel. Pada 1943, dia bertugas sebagai Laksamana Besar dan Panglima Tertinggi Angkatan Laut Jerman. Para awak dan perwira U-Boot memberikan sapaan terhormat baginya, ‘Der Löwe’ atau ‘Sang Singa’. Sementara sang panglima itu menjuluki mereka dengan sebutan ‘Graue Wölfe’ atau ‘Serigala Kelabu’. Julukan itu barangkali karena kapal selam mereka berwarna abu-abu, atau bisa juga mengacu seragam khusus awak U-boot yang terbuat dari kulit dengan warna senada.

Sebagian kawanan itu berjulukan ‘Gruppe Monsun’ yang merupakan armada Jerman yang beroperasi di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia sekitar 1943-1945. “Kita berangkat dari sebuah teori bahwa armada Jerman itu ada di Indonesia saat Perang Dunia II,” ujarnya. “Mereka tidak cuma lewat atau mengisi bahan bakar, melainkan juga punya aktivitas yang cukup penting.”

“Aktivitas mereka dalam Monsoon Group memang masih diselimuti misi-misi rahasia,” demikian tutur Adhityatama sembari membuka pemaparan mengapa armada kapal selam Jerman bisa sampai ke Indonesia. “Sepanjang sejarah yang saya ketahui, kontak kita dengan Jerman memang tidak terlihat nyata. Bahkan, di buku sejarah kita pun tidak ada yang menyebutkan adanya kontak itu. Padahal, menurut saya peranan mereka cukup berarti. Mereka sedang membangun jaringan.” 

Jerman, Italia, dan Jepang berkolaborasi membentuk Blok Poros pada September 1940. Blok Poros ini dipimpin oleh Adolf Hitler di Jerman, Benito Mussolini di Italia, dan Kaisar Hirohito dan Hideki Tojo di Jepang. Sejatinya, menurut Adhityatama, hubungan Jerman-Jepang lebih erat ketimbang Jerman-Italia. Bahkan, hubungan Jerman dan Jepang sudah terjalin sejak masa Restorasi Meiji—paruh kedua abad ke-19—ungkapnya. “Mereka mempunyai idealisme yang seragam,” ungkapnya. “Mereka berdua sama-sama menganut bahwa mereka merupakan ras tertinggi—fasisme.”

Dia mengatakan, jika invasi Jerman ke Rusia dalam Operasi Barbarosa membuahkan hasil, hubungan komunikasi antara Jerman dan Jepang dapat dilakukan dengan lebih mudah. Namun, kenyataannya Rusia sulit dirambah. Satu-satunya tempat yang masih aman untuk pertemuan antara armada Jerman dan Jepang adalah di Samudra Hindia karena Jepang sudah menguasai Asia Tenggara, termasuk Indonesia. “Akhirnya, dibentuklah Gruppe Monsun ini.”

Armada tersebut mulai menjalani misinya pada Juli 1943. Gelombang pertama terdiri atas sebelas U-Boot, sebagian besar Type IXC, yang bertolak dari pelabuhan di Prancis dan Norwegia menuju Samudra Hindia. Mereka berencana untuk menenggelamkan kapal-kapal dagang dan logistik di Laut Arab, Teluk Suez, Teluk Oman, dan Teluk Persia. Armada ini sampai di tengah Samudra Hindia pada awal September jelang musim hujan, sehingga dijuluki Gruppe Monsun. Namun, dari sebelas kapal selam itu, hanya lima yang mampu mencapai jantung Samudra Hindia.

Tujuan pertama Gruppe Monsun, menurut Adhityatama, adalah untuk memotong pasok­an sumber daya Sekutu. Kawasan Asia merupakan pendukung pasokan logistik bagi Sekutu—khususnya Inggris yang mempunyai koloni di India. Kemudian, Jerman dan Jepang membentuk operasi militer bersama di Samudra Hindia untuk menguasai kawasan Asia-Pasifik, sekaligus memutus pasokan logistik Sekutu dari Australia dan Selandia Baru.

Sebelum kedatangan Gruppe Monsun gelombang pertama, kerja sama dua ne­gara digdaya itu telah diwujudkan dalam pem­bangunan pangkalan utama untuk kapal selam di Penang dan pangkalan kedua di Kobe, Jepang. Mereka juga membangun pangkalan semacam bengkel kecil di Singapura, Jakarta, dan Surabaya. Jerman menempatkan Wilhelm Dommes sebagai Panglima Armada Jerman di Asia pada masa Perang Dunia II yang berpusat di Penang. Tujuan selanjutnya kerja sama ini adalah pertukaran berbagai riset, senjata purwarupa, dan teknologi militer. 

“Namun, kapal selam Jerman ini gunanya tak hanya untuk perang,” ungkapnya, “tetapi juga untuk membawa logistik sebagai kapal kargo. Mereka dipersenjatai, namun misi-misi mereka tidak selalu operasi militer. Dan, ini cukup aman karena dia di bawah laut.” Jepang membutuhkan baja, merkuri, dan kaca optik dari Jerman. Sebaliknya, Jerman membutuhkan bahan karet, tembaga dan bismut, juga obat-obatan.

“Ketangguhan U-Boot diakui karena punya strategi yang luar biasa,” ujarnya. “Banyak kapal perang Sekutu yang ditenggelamkan oleh U-Boot.” Sejarah mencatat bahwa se­lama kecamuk 1939-1945, U-Boot telah me­nenggelamkan lebih dari 2.700 kapal, lebih dari separuhnya merupakan kapal perang Sekutu. “U-Boot ini sangar sekali.”

Kelemahan armada U-Boot terletak pada Enigma—alat komunikasi berkode untuk pesan rahasia. Ketika alat itu berhasil dicuri Sekutu, keberadaan U-Boot mudah diketahui. “Akhirnya, mereka menjadi pemburu yang diburu.”

Laut yang tampak tenang tak selalu me­nentramkan. Dari sekian kesatuan armada militer Jerman, risiko tewas paling besar justru meng­hadang para awak U-Boot. Tiga perempat dari mereka telah menjadikan laut nan dingin sebagai peristirahatan terakhir. Bahkan, se­banyak 41 unit U-Boot yang dikirim ke Asia dan Timur Jauh dalam Gruppe Monsun, hanya sebagian kecil yang bisa pulang ke pelabuhan asalnya—empat kapal selam saja.

Pusat Arkeologi Nasional mencatat dari beberapa sumber Jerman, bahwa terdapat dua unit U-Boot yang putus kontak dengan Berlin ketika mereka berada di laut utara Jawa. Kapal selam malang itu adalah U-168 yang ditorpedo kapal selam Belanda Hr.Ms. Zwaardvisch pada 6 Oktober 1944. Sebanyak 23 awaknya tewas, 27 selamat. Bencana  berikutnya, U-183 ditorpedo kapal selam Amerika Serikat USS Besugo pada 23 April 1945, dua minggu jelang Jerman menyerah. Sebanyak 54 awaknya tewas, hanya satu yang selamat. Fritz Schneewind, Sang Kapten yang kelahiran Padang, turut tewas di lautan kampung halamannya. Kedua U-Boot itu bertipe IXC/40 dan merupakan bagian gelombang pertama Gruppe Monsun yang sukses menderum di Samudra Hindia pada 1943.

Namun, titik dugaan lokasi tenggelamnya dua kapal selam tersebut berbeda dengan titik lokasi temuan tim ahli arkeologi. Kenyataan ini membuat mereka kesulitan menentukan identitas secara pasti kapal selam yang kini masih bersemayam di Laut Jawa itu. “Temuan ini masih U-who.”

Penelitian berbagai situs arkeologi bawah air di kawasan Kepulauan Karimunjawa sejatinya telah dirintis oleh Priyatno Hadi sejak beberapa tahun silam. Dia merupakan ahli arkeologi senior Pusat Arkeologi Nasional yang turut mengidentifikasi temuan U-Boot di Laut Jawa pada November silam. Priyatno mengatakan bahwa pada tahun ini timnya akan kembali melanjutkan penelitian temuan kapal selam tinggalan kedigdayaan Jerman itu. “Kalau kita bisa menemukan buritannya, kita akan tahu apakah itu U-183 atau U-168.” ujarnya. “Atau mungkin malah kapal selam Jerman lainnya.”

Dalam pengamanan situs arkeologi bawah air tersebut, lanjut Priyatno, timnya telah bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut dan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tampaknya kerja sama antarlembaga sangat penting dilakukan di masa mendatang terkait dengan melimpahnya potensi arkeologi bawah laut di Indonesia. Setidaknya terdapat 463 kapal tenggelam pada zaman kolonial di perairan Nusantara, namun hanya sekitar sepuluh persen yang diketahui lokasinya—termasuk temuan kapal selam Jerman ini.

Para ahli arkeologi mengakui bahwa Laut Jawa merupakan panggung pertempuran besar, termasuk juga perairan Karimunjawa. Dia dan timnya menduga bahwa kawasan ini menyimpan potensi arkeologi tinggalan Perang Dunia II.

“Ini hanya serpihan. Kita belum dapat me­rekonstruksi dengan lengkap.” Adhityatama me­nambahkan bahwa masih banyak pertanyaan yang barangkali akan tersingkap lewat penelitian mendatang. Dia pun ingin mencari sebaran kapal selam Jerman lainnya di laut Nusantara untuk memperkuat teori—sejarah yang hilang—bahwa Gruppe Monsun cukup tangguh dan berpengaruh di Indonesia.

Namun, sambil menyeringai getir dia ber­seloroh, “Saya perlu menekankan bahwa masih terlalu jauh untuk menyimpulkan kalau Hitler meninggal di sini!”





Tidak ada komentar:

Posting Komentar