Minggu, 27 April 2014

Nasionalisme di batas negeri

13983151611341420026

Kompasiana (MI) : Atambua, kota kecil yang berada di ujung timur provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi tempat singgah para eks rakyat pro integrasi Indonesia-TimTim. Sekarang ini melihat kondisi perbatasan NKRI selalu identik dengan keterbelkangan dan merujuk ke citra sebagai kawasan daerah tertinggal. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang ada di daerah tersebut, sangat jauh berbeda dengan gemerlap indah kota besar di Indonesia, katakanlah Surabaya. Kondisi alam yang berada jauh dari hingar bingar kemewahan kota besar membuat kota Atambua menjadi tempat yang sering terlupakan. Kemiskinan, keterbelakangan dan jauh dari kata sejahtera adalah gambaran yang selalu melekat untuk mendeskripsikan bagaimana keadaan kota Atambua dari dulu hingga saat ini. 

Kesejahteraan seolah menjadi isu yang kian disoroti khususnya untuk daerah perbatasan, karena sebagai daerah yang bisa dikatakan terluar dan tertinggal nyaris membuat pemerintah terkadang kurang memperhatikan. Isu lain yang perlu disoroti adalah terkait dengan nasionalisme dan kebangsaan, selalu menjadi kekhawatiran bagi keutuhan NKRI apabila mendengar hal ini. Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga yang dulu pernah menjadi bagian dari provinsi Indonesia (Timor Leste), maka perlu adanya pemahaman nasionalisme dan perhatian dari pemerintah agar tidak ada kecemburuan akan perbandingan kesejahteraan antara kedua sisi Negara tersebut. Hal yang perlu diketahui kita bersama, adalah bahwa dengan adanya kehidupan yang berbeda antara Indonesia dengan Timor Leste sebenarnya warga yang hidup di Atambua merupakan eks warga TimTim yang masih memiliki ikatan kekeluargaan serta adat istiadat yang masih kuat. Dengan masih eratnya adat istiadat antara kedua warga Negara yang berbeda ini bisa menjadi masalah ketika ternyata kehidupan di Timor Leste lebih baik dibandingkan dengan kondisi kehidupan di Atambua, hal tersebut akan menjadi kecemburuan warga eks TimTim yang sampai sekarang masih jauh dari kata “Sejahtera” merasa tidak mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia. Kondisi-kondisi yang seperti itulah yang menjadikan kekhawatiran bersama akan nasionalisme yang dimiliki masyarakat Atambua.

Wawasan kebangsaan harus dimiliki oleh setiap warga Negara di Republik ini, bagaimana tidak, apabila masyarakat tidak mengerti tentang bangsanya sendiri hal itu akan menjadi ironi bagi bangsa kita. Banyak kawasan perbatasan di Indoneisa yang kehidupan warganya jauh dari kata sejahtera, mereka hidup dengan kekurangan, jangankan untuk bisa aktualisasi diri seperti kebanyakan dari kita. Untk mendapatkan fasilitas pendidikan, layanan kesehatan dan aktivitas perekonomian yang mapan sama sekali  belum terjamah. Susahnya untuk mendapatkan fasilitas itu karena susahnya akses yang harus ditempuh warga untuk untuk mendapatkan haknya tersebut. Untuk kebutuhan makan sehari-hari, warga menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam dan mengambil hasil bumi yang mereka peroleh dari lahan pertanian maupun perkebunan yang dimiliki warga. Namun itu hanya berlaku bagi mereka yang berada di tempat yang subur untuk ditanami tanaman seperti jagung, pagi, sayur-sayuran, ketela dan lain sebagainya. Untuk masyarakat perbatasan yang tinggal di daerah kering dan minim air, tentunya warga akan kesulitan untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan pangan.

Perhatian pemerintah selalu dinanti rakyat Atambua, mereka rela tak pernah lelah untuk selalu bekerja keras dan ikhlas dibawah terik sinar matahari dengan suhu 39’C untuk bisa menghidupi kebutuhan mereka. Namun, setidaknya masyarakat Atambua selalu bersyukur akan potensi alam yang dimiliki, lahan pertanian dengan komoditas jagung sebagai pertanian unggulan menjadikan mayoritas warga menanam jagung dan memang jagung sebenarnya adalah makanan pokok masyarakat Atambua. Disamping itu padi juga ditanam di lahan warga, dan hasilnya dipanen pula untuk dijual ataupun dikonsumsi. Namun, semua lahan pertanian itu tidak bisa dimanfaatkan secara berlanjut, kendala yang juga dialami adalah adanya air yang menjadi hal vital bagi kelangsungan hidup. Pada musim hujan warga bisa memanfaatkan air untuk pengairan lahan sawah untuk ditanami padi, jagung, sayur-sayur namun pada musim kemarau lahan yang akan mereka tanami mengalami kekeringan. Pun begitu, masayarakat masih tetap bersyukur meskipun belum bisa meproduksi hasil pertanian secara optimal, dilain sisi komoditas peternakan juga menjadi salah satu komoditas unggulan yang terdapat di Atambua, kabupaten Belu. Mereka hidup berdampingan dengan sapi, babi, kambing, ayam dan mampu memanfaatkan sumber daya alam itu untuk dikembangkan bagi penunjang aktivitas pereknomian warga. Warga hidup diantara ternak-ternak yang ada dan menyatu dengan alam, sehingga mereka pun menganggap ternak yang ada sebagai teman, dan sapi-sapi yang ada disana pun dianggap sebagai bagian dari adat istiadat.

Kondisi masyarakat yang jauh dari kata sejahtera, bagi warga di Atambua bukan merupakan masalah yang harus disesali. Selama ini dengan kekurangan yang ada  pun mereka masih bisa menikmati hasil alam yang masih terjaga, belum banyaknya campur tangan dalam mengeksploitasi alam secara besar-besaran membuat Atambua yang seperti kota mati, namun menjadi lebih hidup dengan kearifan lokal yang ada didalam jiwa warganya. Kalau ditelusuri lebih dalam, masyarakat Atambua memang masih memegang teguh nilai adat istiadat yang berlaku, dan adat yang ada disana juga tidak pernah padam meskipun arus globaliasai kian derasnya menggempur nilai lokal yang ada di setiap daerah di Indonesia. Budaya mereka tidak luntur, dan dengan segala kekurangan yang ada mereka masih sempat dan pandai untuk bersyukur. Budaya masih mengingat leluhur mereka curahkan dalam pesta dan upacara adat, tak lupa mereka gantungkan hidupnya dengan berdoa di Gereja sebagai tempat peribadatan terkahir untuk memohon.

Sistem budaya lokal dan nilai-nilai yang melekat sebagai kearifan lokal masih terjaga menjadi kekuatan tersendiri dalam mengarungi kehidupan. Interaksi antar warga pun masih terlihat dengan adanya gotong-royong (penyalur tenaga) dan kehidupan mereka yang sebagian besar menjadi petani menjadikan pertanian sebagai mata pencaharian sehari-hari. Menjadi petani memang pilihan utama yang harus mereka tekuni, karena lahan yang ada disana masih cukup luas untuk menggarap sawah. Akan tetapi, disamping itu juga mencari pekerjaan di Atambua juga tidak semudah yang dibayangkan, tidak seperti di Jakarta. Melihat berapa pabrik yang ada disana, rasanya akan sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan, itulah yang saat ini dialamin oleh mayoritas masyarakat. Tak pelak, banyak lulusan SMA kemudian hanya sebagai pengangguran, hal ini menjadi masalah baru karena ketimpangan strukur ekonomi yang ada disana, tidak seimbanganya pemerataan kesejahteraan antara masyarakat desa dengan kota. Apabila masalah-masalah ini tidak mampu ditangani dengan baik oleh pemerintah, maka dikhawatirkan suatu saat akan menjadi semacam bomb waktu.

Sekali lagi, isu nasionalisme perlu mendapat perhatian dan kepedulian kita bersama, karena apapun yang terjadi persatuan bangsa ini perlu dijaga dengan adanya wawasan kebangsaan disetiap jiwa rakyat Indonesia demi menjaga pertahanan di tapal batas yang menjadi pintu masuk negri ini.





Sumber : Kompasiana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar