Saturday, April 12, 2014

Militer Indonesia Bergabung dengan Upaya Penanggulangan Terorisme


Jakarta (MI) : Bom Bali 2002 yang membunuh 202 orang dan mencederai 240 lainnya di salah satu tujuan wisata paling tenang di dunia menjadi sebuah tamparan adanya terorisme di Indonesia.
Negeri ini mulai menangani terorisme secara lebih mendesak, teratur, dan terkoordinasi, seperti yang dilakukan Amerika Serikat setelah serangan 11 September.
Dua belas tahun kemudian, upaya penanggulangan terorisme Indonesia memaksa para teroris untuk mengalihkan fokus.

Karena para teroris tidak mampu melancarkan serangan yang menarik perhatian besar dan menambahkan gengsi tujuan mereka - yaitu serangan berskala besar dan berprofil tinggi terhadap orang asing - mereka harus puas dengan serangan skala kecil terhadap warga setempat, terutama polisi dan pasukan kontra terorisme. 

Kunci perubahan ini adalah lumpuhnya Jemaah Islamiyah, yaitu afiliasi al-Qaeda, yang ciri khasnya adalah serangan berprofil tinggi, oleh pasukan kontra terorisme. Kebanyakan pemimpin Jemaah Islamiyah telah dibunuh atau dipenjara.

Serangan berprofil tinggi dalam beberapa tahun terakhir ini hanyalah pemboman di hotel Marriott dan Ritz-Carlton di Jakarta pada tahun 2009 yang menyebabkan tujuh kematian dan 50 korban cedera. Namun, skalanya sama sekali tidak mendekati skala bom Bali 2002.
Pasukan kontra terorisme juga menggagalkan plot pemboman kedutaan besar Singapura dan Myanmar di Jakarta dalam beberapa tahun terakhir.

Brigjen Tito Karnavian, wakil ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Indonesia, berkata negara ini sedang menghadapi para teroris generasi ketiga.
“Mereka bukan veteran perang Afganistan” yang bertempur dengan al-Qaeda dan Taliban melawan pasukan Sekutu "atau mereka yang dilatih oleh veteran perang," kata Karnavian. “Mereka adalah orang-orang yang telah meradikalisasi diri sendiri.”

Ada sebuah kekhawatiran baru, yaitu para radikal Indonesia pergi ke Suriah untuk bertempur dengan pasukan oposisi melawan rezim Bashar al-Assad. Masalahnya adalah setelah konflik Suriah berakhir, mereka akan kembali ke Indonesia dengan watak yang dibuat keras oleh pertempuran, dengan maksud menghasut kekerasan, seperti yang dilakukan veteran Jemaah Islamiyah dari konflik Afganistan.
Indonesia selama ini berhasil melawan pemberontakan karena struktur kontra terorismenya berkembang dalam satu dekade terakhir ini, melibatkan lebih banyak sumber daya dan memastikan perencanaan serta koordinasi yang lebih baik.

Beberapa tonggak penting dalam perkembangan ini adalah:
• Membentuk satuan elit kepolisian kontra terorisme, Densus 88, dengan bantuan A.S. dan Australia, menyusul bom Bali;

• Melibatkan militer Indonesia dalam upaya penanggulangan terorisme pada tahun 2013. Sebelumnya, kontra terorisme hanya merupakan lingkup polisi . Menambahkan militer ke dalam satuan lebih dari menggandakan jumlah personel yang bisa digunakan dalam upaya kontra terorisme - dari 350.000 polisi menjadi 780.000 personel gabungan polisi dan militer;

• Membentuk lembaga kontra terorisme nasional, BNPT, pada tahun 2010 untuk memastikan koordinasi yang lebih baik di antara para pemain penting dalam upaya ini: polisi, militer, yudisial dan masyarakat umum. Peran koordinasi BNPT mirip dengan peran Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat;
• Mulai mengikutsertakan militer Indonesia dalam latihan kontra terorisme multilateral dengan pasukan dari Amerika Serikat, Australia, para anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara, Tiongkok, dan negara-negara lainnya;

• Mengamandemen UU Indonesia untuk menjatuhkan hukuman yang lebih lama kepada terpidana teroris, untuk menangani kejahatan finansial terkait teroris seperti pencucian uang, dan untuk menutup celah hukum yang bisa membantu para teroris. 

Pasukan A.S. dan Australia membantu pelatihan 

Pasukan kontra terorisme A.S. dan Australia membantu Indonesia mengorganisir dan melatih Densus 88, satuan elit kontra terorisme beranggotakan 300 anggota Polri.
Kedua negara yang membantu memiliki motivasi yang kuat. Serangan teroris 11 September masih segar di benak pihak Amerika, yang terjadi hanya sembilan bulan sebelum pemboman Bali pada bulan Mei 2002. Secara menyakitkan, pihak Australia juga ingat bahwa 88 dari 202 korban tewas dalam pemboman Bali berasal dari negara mereka.

Indonesia memutuskan untuk melibatkan militer dalam upaya kontra terorismenya selama tahun-tahun menjelang pembentukan BNPT pada tahun 2010. Namun, pasukan bersenjata ini tidak bergabung dengan gerakan ini sampai tahun 2013, setelah dasarnya terbentuk.

Dalam laporan tahun 2010 mengenai rencana Indonesia untuk melibatkan militer dalam kontra terorisme, wartawan koresponden Straits Times Indonesia, Wahyudi Soeriaatmadja, mengutip Panglima Angkatan Darat Pramono Edhie Wibowo yang mengatakan: “Terorisme adalah masalah setiap orang.”

Kehadiran militer di seluruh negeri 

Melibatkan pihak militer merupakan sesuatu yang masuk akal karena mereka berlokasi di seluruh Indonesia yang berbeda dengan Polri, menurut para pejabat. Kehadiran mereka akan membantu khususnya dalam hal intelijen.

Ketua BNPT Ansyaad Mbai mengatakan Indonesia akan mengikuti contoh Amerika yang memberi wewenang kepada warga sipil dalam upaya kontra terorisme. Artinya, polisi akan memimpin upaya, dan militer berfungsi sebagai sumber daya tambahan yang berharga.
Karena militer Indonesia baru resmi menjadi bagian upaya kontra terorisme hanya tujuh bulan yang lalu, masih terlalu dini untuk memastikan apakah terjadi koordinasi atau masalah persaingan di antara Polri dan militer. 

Ketika Indonesia memungkinkan pasukan bersenjatanya untuk memulai upaya kontra terorisme tahun lalu, militer segera mulai berpartisipasi dalam latihan multilateral.
Justru militer mengorganisir latihan kontra terorisme besar yang melibatkan 17 negara lainnya pada pertengahan bulan September 2013. Sejumlah 872 pasukan elit kontra terorisme ikut serta dalam latihan lima hari di daerah Sentul. 

Pasukan ini harus menanggapi dua skenario - pemboman teroris terhadap sebuah kapal tangki minyak dan teroris yang menyerang daerah yang dipadati warga sipil.
Panglima militer Indonesia Jend. Moeldoko berkata bahwa para teroris semakin mahir menggunakan teknologi - dan pihak militer memiliki kemampuan teknis untuk mengatasi ancaman yang lebih mutakhir.
“Dinamika perkembangan keamanan di dunia saat ini perlu diperhatikan oleh semua unsur keamanan, terutama militer," kata Moeldoko, yang seperti banyak orang Indonesia, hanya menggunakan satu nama.





Sumber : Apdforum

No comments:

Post a Comment