Rabu, 10 Desember 2014

Mengenal KRI Nanggala 402, kapal selam tangguh andalan TNI AL

Mengenal KRI Nanggala 402, kapal selam tangguh andalan TNI AL

Jakarta (MI)TNI AL baru saja mendapat warga kehormatan baru. Kali ini Menteri Pertahanan (Menhan) Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu yang dipilih TNI AL menjadi warga kehormatan sekaligus diberi brevet Hiu Kencana di perairan Pulau Pabelokan, Kepulauan Seribu, Selasa (9/12).

Menariknya, prosesi pembaretan itu dilakukan di dalam kapal selam TNI AL, KRI Nanggala 402. Kapal selam itu rupanya adalah satu-satunya kapal selam andalan jajaran TNI AL. Armada berwarna hitam ini merupakan armada pemukul dan bisa digunakan untuk berperang.

KRI Nanggala diciptakan oleh Howaldtswerke di Jerman Barat pada 1981. Kapal selam ini termasuk type 209/1300 yang banyak digunakan oleh pasukan angkatan laut sedunia.

KRI Nanggala 402 memiliki berat selam 1,395 ton, dengan dimensi panjang 59,5 meter x lebar 6,3 meter x tinggi 5,5 meter. Kapal selam ini menggunakan 4 mesin diesel elektrik, 1 shaft yang menghasilkan 4.600 SHP, sehingga sanggup berpacu di dalam air hingga kecepatan 21,5 knot.

Berbagai penugasan KRI Nanggala 402 di antaranya pernah terlibat dalam latihan bersama dengan US Navy, dengan nama sandi Coorperation Afloat Readiness and Training/CARAT-8/02 yang diadakan pada 27 Mei-3 Juni 2002 di perairan Laut Jawa, dan Selat Bali.

"Selain itu, pernah juga ikut Latihan Operasi Laut Gabungan (Latopslagab) XV/04 di Samudera Hindia, tanggal 8 April sampai 2 Mei 2004. Di sana KRI Nanggala 402 berhasil menenggelamkan eks KRI Rakata, sebuah kapal tunda samudera buatan 1942 dengan Torpedo SUT," kata Kasubdispenum Dispenal, Kolonel Laut (P) Suradi Agung Slamet, Selasa (9/12).

Menurut Suradi, keunggulan KRI Nanggala 402 yakni mampu menghindari deteksi serta menyerang secara senyap untuk menghancurkan armada musuh. Alutsista ini pun dapat menyusup ke garis pertahanan dan memutuskan garis perhubungan laut lawan.

"Pada masa damai, kehadiran kapal selam akan memberikan dampak penangkalan atau deterrence effect. Hal ini menjadi elemen penting dalam memperkuat posisi tawar atau bargaining position negara di mata dunia," imbuhnya.











Sumber :  Merdeka

1 komentar:

  1. www.pintuwisuda.blogspot.com

    www.ijazahs1.blogspot.com

    www.pembuatanijazahpalsu.blogspot.com

    BalasHapus