Senin, 03 November 2014

KASAL SIAPKAN TNI AL BERKELAS DUNIA


Surabaya (MI) : Sejalan dengan kebijakan Presiden RI Ir. Joko Widodo yang akan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Marsetio terus bertekad untuk mewujudkan TNI Angkatan Laut yang handal dan disegani, serta berkelas dunia.
Hal itu dibuktikan Kasal saat memberikan orasi ilmiah di depan ratusan wisudawan dan wisudawati program sarjana XXXlV maupun pasca sarjana XXlX Universitas Wijaya Putra (UWP), di hotel Shangrila, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (2/11/2014).
Dalam orasinya, kasal membeberkan peran komponen bangsa dalam membangun Indonesia menjadi negara maritim. Selain itu Doktor lulusan UGM yang juga merupakan alumnus UWP ini sempat mengulas mengenai sejarah perkembangan negara maritim Indonesia, dan arah kebijakan pemerintah untuk membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Menurut Kasal, sampai sejauh ini, arah kebijakan pemerintahan baru di bawah Presiden RI, Ir. Joko Widodo dan Wakil Presiden RI, H. Jusuf Kalla memang belum ditetapkan dalam suatu keputusan atau undang-undang. Namun terlihat jelas bahwa Presiden dan Wapres periode 2014-2019 tersebut sangat berkeinginan untuk memajukan Indonesia melalui pembangunan maritim. Sejak masa Pilpres, mereka telah menawarkan sebuah visi “Poros Maritim Dunia” kepada rakyat Indonesia, sebagai janji kampanye yang akan dipenuhi apabila mereka terpilih menjadi Presiden dan Wapres RI. Hingga masa pelantikannya, momentum visi ini masih terus terjaga. Hal ini terlihat dari isi pidato Presiden RI terpilih yang disampaikan seusai pelantikan.
Luas perairan Indonesia, lanjut Kasal, mencapai 5,8 juta Km² atau 77% dari seluruh wilayah Indonesia. Dengan wilayah perairan yang sangat luas tersebut, Indonesia memiliki potensi sumber daya laut yang sangat besar dalam bentuk yang sangat bervariasi (mega biodiversity) sehingga dapat memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perekonomian negara apabila dikelola dengan baik.
Namun demikian, harus disadari dan dipahami bersama bahwa besarnya kekayaan alam yang terkandung didalam bumi Indonesia tidak akan berarti apa-apa bila tidak dikelola dan dijaga kelestariannya dengan baik, tambah penulis buku Sea Power ini.
“Untuk dapat mengelola sumber daya yang begitu besar tersebut, maka kita harus mengetahui potensi-potensi apa saja yang ada didalamnya sekaligus memahami berbagai hal yang mengancam kelestariannya”, kata Laksamana berbintang empat ini.
Adapun mengenai peran TNI Angkatan Laut dalam Menjaga Eksistensi Indonesia sebagai Negara Maritim, Kasal menjelaskan bahwa sistem pertahanan Indonesia berbasis maritim sangat beralasan dengan praduga musuh datang melalui laut, harus dihancurkan di luar medan pertahanan penyanggah atau di luar ZEE Indonesia.
Bilamana musuh sudah terlanjur memasuki wilayah Indonesia, menurut Kasal harus dihancurkan di daerah medan pertahanan utama atau di dalam ZEE Indonesia, tetapi bilamana musuh lebih kuat dan mampu menerobos ”laut pedalaman” harus dilakukan upaya penghambatan terus dan sedapat mungkin dihancurkan di laut atau di medan perlawanan. Karena itulah dalam “Sistem Pertahanan Negara Berbasis Maritim”, sudah pasti tumpuan kekuatan berada pada TNI Angkatan Laut. Untuk itu kekuatan dan kemampuan TNI Angkatan Laut, baik secara kualitas maupun kuantitas perlu terus ditingkatkan, setidaknya mencapai kebutuhan pokok minimum (Minimum Essential Force/MEF).
Melihat dari kondisi kemampuan bangsa Indonesia sebagai negara berkembang, pencapaian terwujudnya kekuatan ideal belum memungkinkan dalam waktu dekat, solusinya adalah mewujudkan Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Hankamrata) di laut. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara membangun “gerakan maritimisasi” Ipoleksosbud yang berorientasi dan berbasis laut. Ini adalah bahasa sederhana dari sebuah gerakan mendayagunakan potensi laut secara menyeluruh dalam segala aspek kehidupan. Hal ini penting untuk ditindaklanjuti dan dipertimbangkan lebih jauh. Patut diingat bahwa bangsa-bangsa besar dalam sejarah adalah bangsa yang menguasai samudera seperti Inggris, Belanda dan Portugal, yang datang menguasai Timur Jauh, semuanya melalui laut. Dalam sejarah kita, Majapahit, sebuah kerajaan Nusantara pernah menguasai Samudera Hindia hingga ke Madagaskar, jelas Kasal.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan kekayaan dan keanekaragaman hayati yang tiada bandingannya, seluruh masyarakat Indonesia harus memiliki pandangan jauh kedepan dan cita-cita membangun Indonesia yang bermartabat dan berdaulat, jelas Kasal lagi.
Masih menurut Kasal, seiring dengan arah kebijakan pembangunan Indonesia saat ini, dimana kelautan menjadi faktor yang sangat penting dalam mendukung pembangunan khususnya dari sektor ekonomi, maka kini sudah saatnya bagi bangsa Indonesia untuk merubah paradigmanya dari “Land Based Socio-Economic” menjadi “Marine Based Socio-Economic”.
Hadirnya pemimpin baru yang memiliki wawasan maritim dan bertekad menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia adalah sebuah modal peluang sekaligus tantangan untuk dapat mengembalikan kejayaan maritim bangsa ini. Karenanya, tugas berat ini harus didukung bersama-sama, dimana dengan keterlibatan aktif semua pihak, diharapkan bangsa ini akan kembali menjadi bangsa maritim yang besar, kuat, makmur dan sejahtera serta disegani oleh negara-negara lain di dunia. Bangsa yang akan menjadi kiblat kesuksesan maritim, seperti yang dicanangkan oleh Presiden RI saat ini, yakni menjadi poros maritim dunia, harap Kasal.
Seluruh rangkaian acara tersebut diakhiri dengan tukar menukar cindera mata  antara Kasal Laksamana TNI Dr. Marsetio dengan Rektor Universitas Wijaya Putra H. Budi Endarto, S.H., M.Hum.
Pada acara tersebut, Kasal didampingi Kepala Staf Armatim Laksamana Pertama TNI Aan Kurnia, Komandan STTAL Kolonel Laut (E) Ir. Siswoyo Hadi, Kepala Sub Dinas Pengembangan Pendidikan (Kasubdisbangdik) Disdikal Kolonel Laut (P) Isworo, S.H., M.A.P., Perwira Penghubung Protokol (Pabungkol) Kasal Letkol Laut (E) R. Lilik Asmoro, S.T., Kepala Urusan Laporan Pelayanan Fasilitas Masyarakat Umum (Kaurlapyanmasum) Ban V Srena Mabesal Kapten Laut (KH) Sutanto, serta pejabat TNI Angkatan Laut lainnya.













Sumber : TNI AL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar