Senin, 03 November 2014

Mengenal Pesawat Tempur Eurofighter yang Dibidik Indonesia

Eurofighter

Paul Smith, Capability Development Manager (mantan test pilot) untuk Eurofighter Typhoon, berfoto dalam seragam terbangnya saat kampanye Indonesia Lepas Landas: Boarding di M.H. Thamrin pada hari Minggu, 2 November 2014

Jakarta (MI) : Pabrikan pesawat tempur Eurofighter menggelar sosialisasi perkembangan industri kedirgantaraan dan penerbangan militer. Acara ini digelar di area Car Free Day, Jl. M. H. Thamrin, Jakarta Pusat pada Minggu (2/11/2014). Hadir dalam acara ini perwakilan dari Eurofighter Direktur Export, Joe Parker dan Capability Development Manager, Paul Smith.

Selain diikuti pengunjung Car Free Day, acara ini juga diikuti komunitas peminat aviasi dan militer Indonesia. Dalam diskusi tersebut, Joe mengatakan, kehadiran Eurofighter dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi Indonesia. Selain itu, pihaknya sudah memiliki kerjasama dengan industri penerbangan Indonesia, PT Dirgantara sejak lama.

"Indonesia sudah bekerjasama dengan Airbus Group, tidak hanya sebatas komersial tapi juga militer. Ini juga memberikan potensi lapangan pekerjaan industrial dan teknik yang bernilai tinggi dan berkelanjutan. Saya harap Eurofighter bisa menjaga angkasa Indonesia," tutur Joe.

Sementara itu, Paul yang pernah menjadi test pilot Eurofighter Tphoon menjelaskan, bahwa pesawat swing role ini paling tangguh dan andal dibanding pesawat tempur negara lain. Sejumlah perangkat canggih ditempatkan di pesawat tempur pada 4 negara yakni Inggris, Jerman, Spanyol dan Itali ini.

"Eurofighter sangat unggul baik dari segi kecepatan, power, lincah dan dia bisa terbang lebih tinggi dari pesawat-pesawat lain. Pilot sendiri bisa fokus di peperangan udara dan darat tanpa memerhatikan sekeliling dia. Ia bisa mengantisipasi ancaman dari arah lain," cakap Joe yang mengenakan seragam pilot ini.

Kementrian Pertahanan dan TNI Angkatan Udara hingga kini masih mengkaji calon pengganti pesawat tempur F-5 yang akan di pensiunkan. Sejumlah pilihan sudah dilirik seperti Sukhoi Su-35 dari Rusia, Dassault Rafale dari Perancis, JAS Grippen dari Swedia serta pesawat tempur asal Amerika.

Sementara Eurofighter Typhoon diusulkan PT Dirgantara Indonesia karena pihak produsen sangat mungkin berbagi dalam hal transfer teknologi dan juga lisensi suku cadang. Penggantian pesawat F-5 sendiri sudah disusun pada RPJMN 2015-2019 yang direncanakan sebanyak 12 unit.

Dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, pembelian Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) harus berperan meningkatkan peran industri dalam negeri. Pada tahun 2012, pemenuhan alutsista dalam negeri mencapai 15,8%. Ditargetkan pada tahun 2019, Industri Pertahanan dalam negeri mampu memenuhi 50% kebutuhan alutsista TNI. 
Sumber : Liputan6

1 komentar:

  1. Mnding su35.
    Barat engga pernah tulus ngasi ilmu ke indonesia
    Jelas"Rusia pernah membatu kita mengusir jionis belanda di Papua.

    BalasHapus