Wednesday, August 13, 2014

Petunjuk Baru, Perancis Terlibat dalam Konflik Papua


1407827545185521797

Kompasiana (MI) : Dua jurnalis asing asal Perancis, yaitu Thomas Charles Tendies (40) yang bekerja di ARTE Televisi Perancis dan Louise Marie Valentine Burort yang bekerja sebagai salah satu Jurnalis di Media Online Perancis tertangkap tangan melakukan karya jurnalistik di Papua menggunakan paspor turis. Keduanya diitangkap aparat Polres Jayawijaya (7/8/2014) di sebuah hotel di Wamena, bersama tiga anggota OPM (Organisasi Papua Merdeka) berinisial JW, 24 tahun, LK (17), dan DD (27) yang diketahui sebagai anak buah Puron Wenda dan Enden Wanimbo yang beroperasi di wilayah Lanny Jaya.

Saya tertarik untuk mengikuti lebih dalam pemberitaan terkait kedua jurnalis ini. Mengapa? Karena sepengetahuan saya, Pemerintah masih memberlakukan aturan khusus untuk LSM dan jurnalis asing yang mau bertugas ke Papua, semata-mata demi keselamatan jiwa mereka. Aturan khusus itu bukan melarang sama sekali, tetapi harus dengan ijin khusus untuk mendapatkan pengawalan dari aparat keamanan, sebagaimana pernah diberikan kepada jurnalis senior dari Stasiun TV SBS Australia, Mark Davis bulan Mei 2014 yang lalu. (Sumber)

Paspor ganda

Hal yang mencurigakan adalah, mengapa kedua jurnalis dari Perancis itu harus meliput (saya sebut ‘menyusup’ ke Papua) dengan menyalahgunakan visa? Padahal ijin khusus bisa ia dapatkan sebagaimana Mark Davis pada Mei lalu.

Berangkat dari pertanyaan kritis itu, sedikit demi sedikit saya dapatkan jawabannya. Dalam pemeriksaan di markas Polda Papua, Polisi menemukan salah seorang dari jurnalis itu (Louise Marie Valentine Burort) memiliki paspor ganda, yaitu paspor sipil dan paspor dinas. Kedua paspor itu masih berlaku. Paspor dinas itu dikeluarkan oleh Pemerintah Perancis saat Valentine bertugas di Kedutaan Perancis di Tel Aviv. Valentine juga mengaku masih bekerja di Arte TV Prancis, namun penyidik tidak menemukan kartu pers milikinya. Thomas Charles Dandois pun demikian. Kartu pers miliknya telah habis masa berlakunya sejak 2006. Menurut pengakuannya, keduanya bisa sampai ke Kabupaten Jayawijaya atas bantuan salah seorang jurnalis Australia berinisial NC. (Sumber)

Jaringan Penyelundupan senjata

Petunjuk kedua, berawal dari pemberitaan media lokal bintangpapua.com, bahwa diduga pertemuan dua “penyusup” dari Perancis itu diduga akan melakukan barter peluru antara kelompok OPM pimpinan Purom Wenda dengan kedua jurnalis itu. (Sumber)
Yang menarik, ketika menggunakan metode pencarian sederhana melalui Google searching image dengan kata kunci “Valentine Burort, Perancis” ditemukan sejumlah situs yang mengulas tentang ‘cara membuat senjata M16 USA’. (Sumber)
Dalam artikel itu tampak foto wanita muda kulit putih yang bekerja di sebuah pabrik senjata, wajahnya sangat mirip dengan Louise Marie Valentine Burort. Coba perhatikan gambar berikut :

1407827794899673249
olahan penulis, sumber: veiledveiled.blogspot.com dan bintangpapua.com
Jika benar orangnya sama, ini bisa menjadi petunjuk penting untuk mengungkap keterlibatan asing (khususnya Perancis dan Australia) dalam penyelundupan senjata ke kelompok sipil bersenjata (OPM) di Papua. Dan ikhwal paspor dinas yang masih berlaku itu, menunjukkan bahwa si “penyusup” itu adalah orang pemerintah. Pemerintah Perancis harus bisa menjelaskan hal ini.

Apalagi kalau indikasi “barter peluru” itu benar, maka ini bukan lagi sekedar urusan administrasi keimigrasian belaka tetapi sudah masuk ranah transnational crime. Suka atau tidak suka, opini publik sudah terarah kepada kesimpulan bahwa Pemerintah Perancis “patut diduga” berada di balik berbagai aksi penembakan di Papua yang telah menewaskan sejumlah aparat keamanan dan warga sipil. Kita tentu masih ingat, 28 Juli lalu persis di Hari Idul Fitri, dua polisi tewas dan sejumlah anggota Polri luka-luka dalam aksi penyerangan kelompok Purom Wenda di Lanny Jaya. Anak buah Purom Wenda inilah yang ikut tertangkap bersama para penyusup dari Perancis ini beberapa hari lalu di Wamena.

Motif dibalik tuntutan Pembebasan Kedua Jurnalis Perancis

Indikasi lain, pasca penangkapan Thomas Charles Tendies dan Louise Marie Valentine Burort sejumlah aktivis politik Papua merdeka kontan bersuara keras. Mereka menuding pemerintah Indonesia telah mengangkangi kebebasan pers. Seperti Benny Wenda mantan DPO yang sekarang sudah menjadi WN Inggris, Pastor Andreas Harsono peneliti Human Rights Watch (HRW) juga ikut berteriak dari Australia. Begitu juga Victor Mambor, Ketua Aji Papua. Mereka menyerukan kepada semua orang di seluruh dunia yang percaya kepada keadilan, kebebasan dan demokrasi, untuk memastikan kedua jurnalis asal Perancis itu dilepaskan. Hemat saya, alasan yang sesungguhnya bukan soal pembungkaman pers dan demokrasi, tetapi lantaran ketakutan kalau kedok kedua jurnalis Perancis itu terbongkar. Jangan-jangan mereka juga bagian dari aktivitas penyelundupan senjata dan amunisi ke Papua??!!

Semoga tulisan sederhana ini menjadi masukan bagi aparat pemerintah kita yang sedang menangani dua jurnalis asal Perancsis yang tertangkap di Papua itu, untuk mengungkap jalur penyelundupan senjata ke kelompok OPM di Papua.





Sumber : Kompasiana

4 comments:

  1. HARUS DI USUT SAMPAI TUNTAS.....JANGAN GENTAR....KETERLIBATAN ASING HARUS DI UNGKAP
    JANGAN NEGARA KITA MENJADI IRAK.. LIBYA

    ReplyDelete
  2. Kalau pemerintah melepas kedua jurnalis yg mencurigakan ini begitu saja,berarti pemerintah dalam tekanan yg luar biasa " luar negeri _ prancis...dll " ?

    ReplyDelete
  3. Bangsa kita bangsa besar, jgn kalah dgn rusia, cina, amerika, apalagi israel dlm menentukan tindakannya sendiri. Bangsa yg tegas dan berani akan disegani oleh yg lainnya. Jelas2 mereka bersalah. Jgn kalah sama amerika yg menahan orang krn orang tsb mendukung isis cuma lewat tweeter saja.

    ReplyDelete
  4. Semoga kita semakin jelas dan tegas.

    ReplyDelete