Saturday, August 16, 2014

Makna 17 Agustus bagi Warga di Perbatasan Kalbar-Sarawak

Ilustrasi kawasan perbatasan.

Pontianak (MI) : Indonesia akan memperingati hari kemerdekaan yang ke-69. Namun bagi masyarakat yang tinggal di perbatasan dan pedalaman Kalimantan Barat dengan Sarawak, Malaysia belum merasakan benar arti pembangunan di perbatasan.

Hal itu dikatakan Martinus (48) seorang warga Kecamatan Badau Kabupaten Kapuashulu yang berbatasan dengan Lubok Antu Sarawak Malaysia kepada SP saat berada di Pontianak Jumat (15/8).
Ia mengatakan, tahun ini Indonesia merayakan HUT kemerdekaan yang ke-69. Sebagian besar masyarakat Indonesia sangat merasakan makna dari kemerdekaan dengan menikmati hasil pembangunan di daerahnya.
Namun lain halnya dengan di daerah pedalaman atau di wilayah perbatasan Indonesia dengan Sarawak Malaysia di wilayah Kalbar. Di mana kondisinya sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan wilayah Sarawak, Malaysia yang juga berada di daerah perbatasan.

Pembangunan di wilayah perbatasan di daerah Kalbar masih sangat minim dan terkesan kurang diperhatikan pemerintah. Bahkan ada daerah yang belum memiliki jalan akses ke daerah ibu kota kecamatan bahkan ibu kota kabupaten.

Sementara jalan menuju daerah Sarawak, Malaysia tersedia dan dapat dilalui dengan baik. Namun jalan itu masih tergolong jalan tidak resmi karena jalan menuju daerah Sarawak itu biasa disebut dengan “Jalur tikus”.
Kondisi seperti ini sangat memprihatinkan, sebab di beberapa daerah jalan sudah terbangun dengan baik. Sementara di daerah perbatasan dan pedalaman Kalbar jalannya masih sangat minim.

Demikian juga dengan kondisi imfrasturktur yang dibutuhkan masyarakat di daerah perbatasan. Seperti jalan, jembatan, air minum, penerangan dan pendidikan serta kesehatan semuanya sangat minim.
Hingga sekarang ini masih ada desa atau daerah yang belum dialiri oleh listrik. Jadi untuk penerangan masih dengan kemampuan sendiri artinya bagi masyarakat yang mampu, penerangannya dengan menggunakan genset namun bagi yang tidak mampu menggunakan penerangan lampu petromak.

Kondisi seperti ini dikhawatirkan akan merubah cara pandang masyarakat perbatasan, sehingga warga akan cenderung berhubungan dengan Indonesia dan tidak lagi dengan Sarawak.
Di tempat terpisah Asuan (55) salah seorang warga Etnis Tionghoa yang tinggal di pinggiran Sungai Kapuas kepada SP mengatakan, pihaknya tidak mengetahui secara persis makna dari HUT Kemerdekaan RI. Namun yang pasti adalah sekarang ini sudah lebih baik dari tahun yang lalu.

Ia mengatakan, beberapa tahun yang lalu, warga Tionghoa sangat sulit untuk melakukan sesuatu khususnya untuk ikut dalam berbagai hal di pemerintahan. Namun beberapa tahun terakhir ini semua sudah sama sebab warga Tionghoa sudah ada yang menjadi Wakil Gubernur dan juga anggota DPRD.
Seperti diketahui yaitu, Wakil Gubernur Kalbar Cristiandy Sanjaya adalah dari etnis Tionghoa. 







Sumber :  Beritasatu

No comments:

Post a Comment