Selasa, 01 Juli 2014

Dapat Rp1 triliun/tahun Indonesia bisa punya satelit dan roket sendiri

Ketua LAPAN, Prof Thomas Djamaluddin

Jakarta (MI) Rencana penambahan anggaran Rp10 triliun untuk dana riset yang diungkapkan oleh Hatta Rajasa dalam debat calon wakil presiden, Minggu 29 Juni lalu, bak hembusan angin surga bagi lembaga yang membutuhkan dana segar dalam kegiatan risetnya. Salah satunya adalah Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Ketua Lapan Thomas Djamaluddin mengatakan hal itu tentu bisa membuka peluang bagi Indonesia untuk menciptakan teknologi yang dapat mendorong kemandirian bangsa.

"Saat ini, anggaran litbang untuk keseluruhan IPTEK itu 11,7 triliun. Bila itu ditambah berarti dua kali lipatnya, tentu itu akan menjadi pendorong yang signifikan," ujar Thomas ketika dihubungi VIVAnews, Selasa 1 Juli 2014.

Namun, bila dilihat dari cita-cita IPTEK itu sendiri, Thomas menjelaskan yang sesuai adalah satu persen dari Gross Domestic Product (GDP). "Saat ini kan masih 0,1 persen dari GDP," imbuhnya.

Problematika yang dihadapi oleh lembaga riset itu, ungkap Thomas, sering terganjal dengan kurangnya anggaran dan sumber daya manusia yang tersedia.
"Untuk tahun ini, anggaran Lapan sekitar Rp690 miliar," keluhnya.

Hal itu merupakan total anggaran yang semulanya Rp789 miliar kemudian harus dipotong Rp99 miliar. Pemotongan ini dilakukan sebagai bagian dari penghematan anggaran negara oleh pemerintah.

Padahal, menurutnya, di zaman modern sekarang ini teknologi antariksa memiliki peranan penting dalam perkembangan dan pendapatan bangsa ke depannya dari berbagai sektor.

"Misalnya pertanian, untuk memantaunya tentu kita harus menggunakan satelit. Begitu juga perbankan yang membutuhkan satelit untuk informasinya," ucap Thomas.

Dengan sains dan teknologi yang diciptakan dari tangan-tangan anak negeri, ungkap Thomas, Indonesia akan menjadi negara yang mandiri yang tidak selalu bergantung dengan buatan luar negeri.

Dia mengakui, teknologi antariksa memang memiliki high cost (harga tinggi), high tech (teknologi tinggi), dan high risk (resiko tinggi).

"Jadi harapan kami, idealnya sebagai negara maju, tahun depan untuk pemerintahan baru bisa menganggarkan Rp1 triliun per tahun bagi Lapan," kata Thomas.

Dana itu akan digunakan sebagai penunjang riset Lapan dari penerapan satelit, roket, yang keduanya saat ini masih dalam tahap eksperimen. Lalu, teknologi penerbangan di tempat terpencil (pesawat terbang N-219), dan penginderaan jauh.

"Teknologi antariksa yang meliputi satelit, roket, dan pengineraan jauh menjadi prioritas bagi kami. Berharap Lapan ke depannya bisa punya satelit dan roket sendiri," harapnya.


LAPAN tidak ingin Indonesia terus menerus menjadi 'pengikut' asing



Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan teknologi mempunyai peran penting dalam membangun negeri sebagai bentuk kemandirian bangsa. Oleh karena itu dirinya berharap calon presiden bisa memperhatikan industri sains dan teknologi dan bisa menerapkannya saat berkuasa nanti.

Ketika disinggung debat calon presiden dan wakil presiden keempat yang akan menyinggung soal Iptek, Ketua Lapan, Thomas Djamaludin mengaku menaruh harapan besar kepada dua calon pemimpin tersebut untuk dapat meningkatkan dan memberi perhatian pada teknologi dalam negeri.

"Dalam waktu dekat ini memang belum ada rencana diskusi dengan kedua capres. Kami selama ini berupaya menyampaikan harapan-harapan bahwa Iptek harus dikembangkan agar ingin maju. Namun hanya sebatas penyampaian ke Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek)," kata Thomas saat ditemui di Kantor Lapan, Jakarta Timur, Senin 23 Juni 2014.

Dirinya berharap besar jika kedua pasangan bisa menaruh perhatian tentang itu dan bisa dengan amanah melaksanakannya. Pasalnya, lanjut Thomas, dirinya khawatir jika Indonesia hanya akan menjadi bangsa pengikut jika untuk urusan teknologi dan satelit saja harus mengandalkan asing.

"Kalau teknologi atau satelit saja mengandalkan luar negeri, kita bakal terus jadi bangsa pengikut. Pemerintah masih belum memberi perhatiannya kepada bidang sains dan teknologi. Padahal teknologi bisa membangun bangsa menjadi maju," ujar Thomas.

Salah satu cara untuk mencegah ketergantungan tersebut, Lapan baru saja mencapai kesepakatan dengan pemerintah daerah. Lapan ingin memacu pemda agar mau mengandalkan satelit yang dimiliki.
Sayangnya, meski banyak hal bisa dilakukan untuk mengembangkan teknologi satelit ini, Lapan masih harus menghadapi pemotongan anggaran yang seharusnya bisa digunakan untuk riset di bidang satelit.

"Anggaran Lapan tahun 2014 totalnya sekitar Rp789 miliar. Itu total setelah dipotong Rp99 miliar di bagian risetnya. Pemotongan ini dilakukan sebagai bagian dari penghematan anggaran negara oleh pemerintah," keluhnya.

Angka anggaran Lapan tahun ini, menurut Thomas, jauh di bawah angka pembelian slot satelit yang dilakukan oleh sebuah bank dalam negeri. Kala itu, bank dalam negeri tersebut membeli slot satelit komunikasi seharga Rp2,5 triliun dari pihak asing. Padahal, menurutnya, bila menggunakan satelit buatan sendiri maka hal itu bisa diminimalisir.

Bank Rakyat Indonesia memang telah menggantikan Indosat dalam mengelola slot orbit satelit 150,5 derajat Bujur Timur (BT). BRI mengklaim diri sebagai bank pertama di dunia yang mengelola slot orbit dan memiliki satelit sendiri. Proses pembelian satelit memakan dana US$250 juta dan telah rampung April lalu. BRI akan menggunakan satelit tersebut pada 2016 nanti.

Sebagai Ketua Lapan, Prof. Thomas mempunyai mimpi besar untuk memproduksi satelit sendiri berikut tempat peluncurannya, mirip dengan NASA dan Cape Canaveral-nya.







Sumber :  VIVAnews

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar