Senin, 30 Juni 2014

Lima tahun ke depan, BPPT menargetkan membuat pesawat nirawak MALE


Jakarta (MI) : Drone atau pesawat nirawak untuk pengawasan, menjadi topik hangat beberapa hari lalu, saat menjadi bahasan debar capres sesi ketiga antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Tak hanya seru di debat, topik drone juga ramai dibicarakan di sosial media.

Sejauh ini kemampuan Indonesia untuk mengembangkan teknologi pesawat nirawak itu sudah berjalan. Pengembangan teknologi pesawat nirawak itu dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). 

Kepala Program Pesawat Udara Nirawak (PUNA) BPPT, Joko Purwono, kepada VIVAnews, Senin malam, 25 Juni 2014 mengatakan institusinya sudah mengembangkan pesawat nirawak Wulung, yang tengah diproduksi, dan pesawat nirawak Sriti.

"Sedang diproduksi di PT Dirgantara Indonesia, Bandung dan digunakan Balitbang Kementerian Pertahanan," kata dia. 

Menurutnya dengan kemampuan daya jelajah 200 km, PUNA Wulung bisa dimanfaatkan untuk pengawasan di perbatasan, misalnya di Kalimantan bagian Utara. Namun untuk pengawasan itu diperlukan dukungan base station, sebagai lokasi pendaratan pesawat nirawak itu. 

"Pulau Kalimantan itu kan panjangnya sampai 2000 Km, itu harus ada base station. Setidaknya di Kalimantan butuh 4 base station," katanya. 

Untuk menjangkau pengawasan seluruh wilayah Indonesia, menurutnya butuh 25 titik base station. 

Joko mengakui selama ini pesawat nirawak yang dikembangkan masih untuk memasok untuk kebutuhan pengawasan di wilayah perairan Indonesia. Sama pentingnya, pengawasan di perairan didorong untuk menekan pencurian ikan. 

Ditambahkan Joko, pesawat nirawak yang dikembangkan BPPT, masih memiliki keterbatasan yaitu ketinggian terbang, lama terbang dan muatan yang dibawa. 

Wulung, jelasnya, hanya mampu terbang dengan ketinggian 12-14 ribu kaki, terbang 6 jam dan tak mampu terbang sampai di atas awan. 

"Tidak bisa lihat (area pengawasan) jika  di atas awan. Kalau cuaca bagus (Tak ada awan) bisa terbang sampai 20 ribu kaki, tapi jangkauannya 150 km, dan di titik itu nggak bisa online kirim data," katanya.

Ia menambahkan pesawat nirawak Wulung mampu mengirimkan data pengawasan secara realtime dalam terbang ketinggian normal.

Untuk itu, BPPT dalam lima tahun mendatang manargetkan mampu kembangkan pesawat nirawak dengan kemampuan lebih dari Wulung. Pesawat itu dinamakan Medium Altitude Long Endurance (MALE). 

Pesawat ini lebih besar dari Wulung, mampu terbang lebih tinggi dan memiliki kelengkapan fasilitas muatan untuk kebutuhan pengintaian. 

Data terbangnya lebih dari 20 jam dalam sehari, terbang dalam ketinggian 20-30 ribu kaki.

"Muatannya bukan kamera saja, tapi radar untuk melihat benda di bawah awan," katanya. 

Pengembangan pesawat nirawak MALE itu akan didanai oleh Kementerian Pertahanan. 








Sumber : VIVAnews

1 komentar:

  1. Bagus lah BBPT sdh ada program sebatas permintaan, kalau bisa hrs ada rencana program spt PT Lapan dan dpt dikontrol sampai sejauh mana yg sdh dikerjakan. Pemerintah DPR juga hrs punya program capaian, misalnya getah karet kita apa bisa dimanfa'atkan utk keperluan pesawat/mobil dr karet dpt digunakan sbg penahan beban contoh mobil disampin kiri kanan per/socbeker/penahan panas. Ini tugas pemerintah utk mencari investor yg bergerak disana bekerjasama patungan dg Hipmi utk pengadaan barang tsb. Dg harapan Hipmi kedepan mendptkan alih teknologi, shg dpt mendirikan pabrik sendiri dan lapangan pekerjaan masyarakat akan bertambah serta berlaku juga spt pasir kuarsa. Indonesia maju akan benar2 menjadi kenyataan..............

    BalasHapus