Kamis, 25 Desember 2014

Menhan Pantau Kondisi Pos Pengamanan Perbatasan RI-Timor Leste


Kupang (MI) : Dalam rangkaian kunjungan kerja ke Nusa Tenggara Timur, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Kamis (25/12) meninjau Pos perbatasan RI dengan negara Timor Leste yang berada di Pulau Batek dan Pos perbatasan Motaain.

Setibanya di Lanud El Tari, Kupang NTT, Menhan yang didampingi Panglima Daerah Militer (Pangdam) IX Udayana, Mayjen TNI, Torry banguntoro, menerima paparan seputar perkembangan daerah perbatasan dari Danrem 161 Wirasakti Kupang Brigjen Achmad Yuliarto. menurut penjelasan danrem wilayah perbatasan RI Timor Leste terbagi wilayah Timur dan Barat. untuk wilayah barat dari pos Wini hingga Pos Oepoli terdapat 19 pos satgas pengamanan perbatasan yang 1 posnya di isi 25 pasukan dari Yonif 744 Satya Yudha Baktidari. sementara itu untuk wilayah timur terdapat 20 pos pamtas yang diperkuat 25 pasukan perposnya dari Yonif 514 Raider Kostrad Kodam V Brawijaya. naamun menurut Danrem jumlah ideal keberadaan pos pamtas berjumlah 56.

sedangkan untuk kondisi fasilitas pos pamtas Danrem mengatakan terdapat beberapa pos khususnya pos yang ada di Pulau Batek yang kondisinya rusak dan perlu renovasi. disamping itu tantangan untuk mendapatkan kebutuhan yang sangat diperlukan personil saat ini adalah air bersih dan makanan. para pasukan yang bertugas ini utnuk mendapatkan kebututhan logistik selama ini harus menuju pos Oepoli dengan menggunakan perahu karet dan menempuh jarak waktu 30 menit. fasilitas lain yang kurang saat ini menurut Danrem adalah peralatan Telekomunikasi.

Danrem saat paparannya juga mengatakan pulau batek memiliki nilai strategis karena merupakan base line untuk menarik batas terluar RI timor leste. untuk itu pemerintah perlu mengelola pulau batek untuk menjamin ketegakan wilayah NKRI.

usai menerima paparan Danrem, Menhan dan pejabat Kemhan lainnya langsung mengunjungi Pulau Batek dengan menggunakan Helikopter Bell TNI AD.
Pulau Batek, yang merupakan satu dari empat pulau terluar di Nusa Tenggara Timur terletak Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pulau ini oleh orang setempat biasa disebut Fatu Sinai berada dilepas pantai Laut Sawu dan berada di perbatasan antara wilayah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur dengan Enclave (wilayah kantong) Oekusi (Oecusse,Ambeno), Timor Leste. Pada pulau ini Menhan memeriksa kelengkapan dan fasilitas yang digunakan Prajurit TNI AD untuk bertugas mengamankan sekitar Pulau Batek.  

Usai meninjau Pulau Batek, Menhan dan rombangan meneruskan kunjungan ke pos perbatasan, Motaain Kabupaten Belu dengan menggunakan Helikopter Bell TNI AD. Pos Perbatasan Motaain, yang merupakan serambi terdepan NKRI yang berbatasan langsung dengan Batugade, Distric Bobonaro Timor Leste. terletak di Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pada kesempatan itu Menhan melihat secara dekat proses pelayanan serta kondisi fasilitas bangunan di pintu perbatasan Motaain. Selain itu Menhan juga meninjau garis batas negara Indonesia dan Timor Leste yang terdapat pada jembatan penghubung di pintu lintas batas Motaain, Desa Silawan, Kecataman Tasifeto Timur.
Dalam kunjungan kerjanya saat ini Menhan dan para pejabat lainnya juga menyempatkan untuk mengunjungi Markas Brigif 21/Komodo. dengan didampingi Danbrigif untuk bertatap muka dengan para Prajurit TNI dan 100 Warga Tuak Pukan yang merupakan Milsas atau Pejuang Timtim.












Sumber : DMC Kemhan

3 komentar:

  1. perbatasan dimekarkan lg biar cepat berkembang...... atambua butuh teman.kota dekat agar tdk merasa asing diperbatasan sekaligus untukmerangkai jaringan ekonomi yg kuat antar kota seperti halnya bandung yg maju karena terkoneksi dg jkt yg dekat

    BalasHapus
  2. bicara perbatasan antar negara border area tori tori pemerintahan sekarang jangan pernah meniru gaya saman beye kroni duluu ...rakyat di kupang saling gempur sengketa tanah leluhur di perbatasan border tim tim , tni dan pusat malah hanya jadi wasit pura 2 ga tahu itu kan aneh .

    BalasHapus