Rabu, 24 Desember 2014

Jokowi Minta Jet Amfibi, Panglima Perkirakan Anggaran TNI 2015 Ditambah


Jakarta (MI) : TNI dialokasikan anggaran hingga Rp 96 triliun untuk tahun 2015. Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan ada kemungkinan alokasi dana untuk TNI akan lebih besar dari rencana karena keinginan Presiden Joko Widodo membeli pesawat Jet Amfibi untuk patroli maritim.

"Saya kira ada akselerasi seperti itu. Kemarin beliau menginginkan (pesawat Jet Amfibi) BE 200, pesawatnya TNI AU, segera untuk disiapkan. Saya kira akselerasi hal-hal yang baru yah," ungkap Moeldoko di sela-sela Rapim TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jaktim, Selasa (23/12/2014).

Meski begitu, Moeldoko belum bisa memastikan besaran anggaran untuk membeli pesawat canggih tersebut. Sehingga penambahan anggaran untuk TNI pun belum bisa ia sampaikan besarannya.

"Itu belum, belum," ucapnya singkat.

Walau Presiden Jokowi memiliki visi menjadikan Indonesia Poros Maritim Dunia, jenderal bintang empat itu membantah jika alokasi dana untuk TNI lebih diprioritaskan untuk Angkatan Laut (AL). Pembagian alokasi dana TNI, disebut Moeldoko akan ditentukan oleh Menteri Pertahanan.

"Enggak, enggak (prioritas ke AL). Kan sudah alokasi. Nanti Menteri Pertahanan yang akan menentukan," jelas Moeldoko.

Sebelumnya disampaikan bahwa TNI AU akan membeli pesawat jet amfibi Beriev BE 200 Altair buatan Rusia setelah Jokowi menginginkan perbaikan patroli maritim usai meninjau pos-pos perbatasan beberapa waktu lalu. Pesawat ini memiliki kemampuan mendarat di laut sehingga bagus untuk mengamankan dari kegiatan illegal fishing.

"Kami sampaikan solusi dalam hal pelaksanaan penindakan dan pencurian ikan di wilayah laut, berupa pesawat amfibi yang bisa mendarat di laut. Sehingga kita bisa menahan mereka untuk melarikan diri, lalu bisa membawa tim untuk pengamanan di laut," tutur KSAU Marsekal IB Putu Dunia di Mabes TNI, Senin (22/12).


Spesifikasi Jet Amfibi Idaman TNI


Begini Spesifikasi Jet Amfibi Idaman TNI


Indonesia akan memiliki Jet Amfibi Beriev Be-200 buatan Rusia. Pesawat ini dibeli karena dianggap memiliki banyak fungsi, antara lain untuk mengejar kapal asing yang mencuri ikan sampai pemadaman kebakaran hutan. Maklum, pesawat ini sanggup membawa dan memuntahkan 12 ton air.

Menurut Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Ida Bagus Putu Dunia, rencana pembelian itu sudah disampaikan ke Presiden Joko Widodo. "Presiden sudah setuju," kata Putu Dunia di Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta, Selasa, 23 Desember 2014.

Putu Dunia beralasan pesawat tersebut mampu membantu pemerintah membasmi pencurian ikan di perairan Indonesia. Bukan hanya mengawasi dari udara, dia melanjutkan, jet amfibi mampu mendarat di atas laut dan menindak kapal asing pencuri ikan.

Jet amfibi yang diinginkan Putu Dunia adalah Beriev Be-200. Jet yang memiliki lambung seperti kapal ini produksi Irkut, Rusia. Pesawat ini memiliki panjang 32 meter, lebar sayap 32,8 meter, dan tinggi 8,9 meter. Pesawat ini sekilas tak jauh berbeda dengan pesawat jet angkut penumpang dengan sepasang sayap utama di tengah badan dan sepasang sayap berukuran lebih kecil di ekor. Perbedaan Be-200 dengan pesawat biasa terletak pada lambungnya yang berbentuk cembung mirip kapal. Selain itu ada sepasang penyeimbang yang terpasang di ujung sayap. Kegunaannya, mirip cadik yang menyeimbangkan laju kapal kayu.

Perbedaan selanjutnya, terdapat pada letak dua buah mesin jet Progress D-436TP turbofan yang terletak di atas punggung pesawat. Tujuannya tentu menghindari air masuk ke dalam mesin jet. Pesawat yang diawaki dua orang pilot ini mampu terbang sejauh 2.100-3.300 kilometer. Jet amfibi ini juga mampu melesat dengan kecepatan maksimal 700 kilometer per jam.

Sejumlah negara mengenal Be-200 sebagai pesawat pemadam kebakaran hutan. Musababnya isi perut jet amfibi ini bisa menampung dan memuntahkan 12 ton air wilayah yang terpapar api dari udara. Selain air, pesawat ini juga mampu membawa 44 orang penumpang.

Jet Amfibi Bisa Kejar Kapal Asing Pencuri Ikan 


Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Ida Bagus Putu Dunia mengusulkan pembelian pesawat jet amfibi ke Presiden Joko Widodo. Menurut Putu, pesawat tersebut bisa membantu TNI mengatasi pencurian ikan oleh nelayan asing.

"Presiden sudah setuju. Nanti akan kami kembangkan lagi," kata Putu di Markas Besar TNI, di Cilangkap, Jakarta, Selasa, 23 Desember 2014.

Jet amfibi yang diinginkan Putu adalah jenis Beriev Be-200. Pesawat ini memiliki lambung seperti kapal, diproduksi oleh Irkut, Rusia. Karena menyandang nama amfibi, pesawat mampu mendarat dan lepas landas di permukaan air. Jet amfibi tersebut juga mampu menampung dan memuntahkan 12 ton air untuk memadamkan kebakaran.

Perusahaan Rusia, Irkut Corporation, pada 2005 pernah menawarkan jet amfibi Be-200 ke Indonesia. Wakil Presiden Marketing Irkut Vladimir Stakov sempat menyambangi Indonesia pada Juni 2005.

Ketika itu Vladimir menawarkan jet amfibi andalannya untuk misi SAR, intai jarak jauh, dan pemadaman kebakaran. Langkah Vladimir ini didorong oleh karena hampir tiap tahun Indonesia mengalami kebakaran hutan pada musim kemarau.

Pemerintah tak merespons tawaran Irkut Corporation. Meski tak membeli, pemerintah tetap butuh bantuan jet amfibi buatan Rusia. Pada Maret 2014, contohnya, Indonesia menyewa sekitar 10 pesawat amfibi untuk memadamkan kebakaran hutan di wilayah Riau.



TNI Diminta Tidak Merusak Modernisasi Alutsista 



Pengamat militer, Rizal Darma Putra, meminta pemerintah teliti dengan rencana pembelian pesawat amfibi untuk memerangi kapal-kapal nelayan asing pencuri ikan di perairan Indonesia. Menurut Rizal, rencana pembelian pesawat amfibi itu bisa mempengaruhi program modernisasi alat utama sistem persenjataan TNI yang sedang berjalan.

"Jangan sampai rencana jet amfibi mempengaruhi pembelian alustsista yang lain," kata Rizal ketika dihubungi Tempo, Selasa, 23 Desember 2014.

Menurut Rizal, program MEF sudah tersusun rapi, alutsista apa saja yang mendesak untuk dibeli pemerintah. Dia khawatir bakal ada alutsista penting yang gagal dibeli hanya untuk meloloskan pembelian pesawat amfibi.

"Kalau sampai terjadi, program modernisasi alutsista TNI jadi kacau," kata dia.

Isu pembelian pesawat amfibi muncul ketika Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Ida Bagus Putu Dunia menyatakan sudah meminta alat utama sistem persenjataan tersebut ke Presiden Joko Widodo. Putu Dunia mengklaim bahwa Presiden Jokowi sudah menyetujui permintaan jet amfibi tersebut. Sebab pembelian pesawat terbang yang bisa tinggal landas dan mendarat di permukaan air itu diperuntukkan memberantas pencurian ikan.

Jet amfibi yang diusulkan TNI Angkatan Laut adalah jenis Be-200. Jet bikinan Irkut, Rusia, ini bisa mendarat di laut dengan karakteristik gelombang yang bisa diatasi. Namun pesawat jet ini lebih sering digunakan sebagai pemadam kebakaran karena bisa mengangkut bom air. Jika jadi membeli, Angkatan Udara ingin memodifikasi pesawat agar mampu membawa tim yang bisa menindak pelaku pencurian ikan.
















Sumber : TEMPO , Detik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar