Senin, 15 September 2014

Tim VBSS KRI Frans Kaiseipo-368 Temukan Narkoba


Lebanon (MI) : “MV. Kongadenan…MV. Kongadenan, this is UN Warship, prepare for boarding, reduce your speed and request for your cooperation!” Demikian penggalan perintah dari KRI Frans Kaisiepo – 368 (FKO) kepada salah satu kontak permukaan yang berlayar di dalam Area of Maritime Operations (AMO). Setelah sebelumnya dilaksanakan identifikasi serta analisa dengan hasil patut dicurigai dan keputusan ditetapkan oleh Komandan KRI FKO-368, yaitu Letkol Laut (P) Ade Nanno Suwardi selaku Maritime Interdiction Operation Commander (MIO Commander) sebagai Vessel of Interest (VOI) untuk dilaksanakan pemeriksaan dan penggeledahan. Lebanon, Jumat (12/09/2014).
Pada jarak kurang lebih 17 Nm, KRI FKO-368 menangkap kontak radar kapal permukaan yang bergerak dengan kecepatan 17 knots menuju pelabuhan Beirut. Dilaksanakan pemanggilan melalui jaring komunikasi namun tidak mendapatkan respon, setelah diidentifikasi dan disinkronkan dengan beberapa sumber data yang dimiliki seperti List of Expected Vessel (LEV) dan data dari Marine Traffic, dapat diketahui bahwa kapal tersebut bernama MV. Kongadenan.
Kapal kargo yang berasal dari Mesir tersebut merupakan kapal yang termasuk VOI yang harus mendapatkan pemeriksaan. Karena membutuhkan reaksi yang cukup cepat dengan jarak yang cukup jauh serta komunikasi belum terjalin, maka Heli BO-105 “Garuda” segera mengudara dan melaksanakan hailing serta member perintah untuk menurunkan kecepatan VOI. Di sisi lain, KRI FKO-368 dengan kecepatan penuh, melaksanakan pendekatan dan menyiapkan tim Visit, Board, Search, and Seizure (VBSS). Setelah jarak dengan VOI mencapai 1 Nm, dan diyakinkan bahwa situasi keamanan dapat termonitor dari udara melalui Garuda, 2 skoci pengangkut 2 Tim VBSS KRI FKO-368 meluncur menuju VOI.
Proses pendekatan dapat dilaksanakan dengan cepat dan aman, selanjutnya kedua tim VBSS KRI FKO-368 menaiki dan memeriksa seluruh ruangan kapal termasuk pemeriksaan terhadap personel dan dokumen berikut muatannya. Tim 1 melaksanakan pemeriksaan terhadap dokumen kapal di anjungan termasuk Kapten kapal serta crew di geladak terbuka. Sedangkan Tim 2 bergerak melaksanakan pemeriksaan dan penggeledahan ruangan-ruangan kapal yang dicurigai digunakan sebagai tempat untuk menyembunyikan barang ilegal.
Pada saat penggeledahan Kapten kapal ditemukan sebilah pisau yang disimpan di kaki yang disinyalir akan digunakan sebagai senjata perlawanan, dan Tim 2 yang memeriksa ruangan-ruangan menemukan beberapa bungkus ukuran sedang berisi narkoba jenis ganja dan shabu. Selanjutnya Katim VBSS Letda Laut (P) Indra Fardhani yang didampingi Wakatim VBSS Letda Laut (P) Pandu Indramanto melaporkan hal tersebut kepada MIO Commander dalam hal ini adalah KRI FKO-368, dan memanggil Kapten MV. Kongadenan untuk menjelaskan bahwa kapal beserta seluruh ABK kapal ditahan dan kapal tersebut saat itu berada dibawah kendali UN Warship yang selanjutnya akan diserahkan kepada Lebanese Armed Force – Navy (LAF-N) untuk ditindaklanjuti sesuai proses hukum yang berlaku di negara tersebut.
Rangkaian kegiatan diatas merupakan garis besar skenario latihan antara KRI FKO-368 dan BRS Constitucao F42 (CON) dalam serial Boarding Exercise 001 yang dilaksanakan di awal on task ke-20. Dimana BRS CON berperan sebagai MV. Kongadenan dan dijadikan simulasi kapal yang diperiksa dan digeledah oleh Tim VBSS KRI FKO-368. Latihan ini bertujuan untuk tetap menjaga kesiapsiagaab, ketangkasan dan tahapan-tahapan dalam prosedur pemeriksaan dan penggeledahan yang dilaksanakan oleh tim VBSS. Selain itu juga digunakan sebagai sarana untuk bertukar pengalaman dalam latihan dengan kapal perang Angkatan Laut Brazil, BRS CON F42. Latihan berlangsung selama 2 jam dengan aman dan lancar. Selanjutnya kedua kapal menuju sektor masing-masing dalam rangka melanjutkan operasi Maritime Task Force di perairan Lebanon. 

Laksanakan Mail Bag Transferr Exercise Bersama Dengan BNS Ali Haider



 


Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-F/UNIFIL 2014, KRI Frans Kaisiepo-368 (FKO) dalam akhir pelaksanaan on task ke-19 minggu lalu telah melaksanakan latihan mail bag transfer sebanyak 2 (dua) kali dengan dua kapal unsur Maritime Task Force (MTF) yang berbeda. Kedua unsur MTF tersebut adalah BNS Ali Haider (Bangladesh) dan FGS Zobel (Jerman). Latihan dilaksanakan di Area of Maritime Operations (AMO) Laut Mediterania, Lebanon.
Latihan mail bag transfer exercise merupakan bagian dari latihan Replenishment at Sea, atau sering kita sebut RAS, dan rangkaian latihan tersebut merupakan contoh kecil dari metode light jackstay. RAS itu sendiri pada dasarnya berfungsi sebagai salah satu cara untuk memperpanjang waktu keberadaan suatu unsur di laut, tanpa harus melaksanakan bekal ulang logistik di suatu pangkalan.
Mail bag transfer yang pertama dilaksanakan dengan BNS Ali Haider di zone 1 center AMO pada tanggal 7 September 2014. Latihan dilaksanakan sebanyak 2 run, dimana pada run pertama KRI FKO-368 berperan sebagai kapal pemberi yang mempertahankan haluan dan kecepatan kapal sesuai perintah halu dan cepat pembekalan. Sedangkan BNS Ali Haider berperan sebagai kapal penerima yang melaksanakan pendekatan dari buritan lambung kiri KRI FKO-368. Pada run kedua pelaksanaannya peran sebagai kapal pemberi dan kapal penerima ditukar antara kedua kapal tersebut. Kedua tim RAS masing-masing kapal dapat melaksanakan tahap demi tahap kegiatan yang dilaksanakan sesuai prosedur yang sudah ditetapkan.
Pada keesokan harinya yakni tanggal 8 September 2014, latihan serupa dilaksanakan dengan patner latihan yang berbeda yaitu FGS Zobel yang dalam beberapa minggu kedepan akan outchop dari daerah misi dan kembali ke negaranya, Jerman. Kegiatan mail bag transfer kali ini selain untuk melatih kesiapsiagaan tim RAS masing-masing kapal juga dipergunakan sebagai sarana penyampaian ucapan selamat jalan dari Komandan KRI FKO-368 kepada Komandan FGS Zobel beserta crew-nya atas selesainya tugas dan misi di bawah bendera PBB di Lebanon. Penghormatan tersebut ditandai dengan saling tukar menukar plakat yang dilaksanakan dengan cara mail bag transfer.
Latihan bersama kedua unsur MTF tersebut diatas dapat berjalan dengan lancar, aman dan sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Dengan harapan selain untuk melatih dan menjaga kesiapsiagaan crew, juga digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan kerjasama latihan dengan negara lain yang saat ini tergabung dalam satu misi pemeliharaan perdamaian dunia di Lebanon.





Sumber : TNI AL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar