Kamis, 18 September 2014

Menhan Minta Taruna AAU Siap Perang Cyber

Taruna AAU Jogja tengah mendengarkan pembekalan dari Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro di Gedung Sabang Merauke (GSM), Kamis (18/9/2014). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja)

SLEMAN (MI)  : Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro memberikan ceramah di hadapan taruna dan taruni Akademi Angkatan Udara (AAU) Jogja, di Gedung Sabang Merauke (GSM), Kamis (18/9/2014). Dalam kesempatan itu Menhan membekali dan mengingatkan taruna untuk bersiap dengan perang dunia maya.
“Sekarang sudah ada angkatan udara, darat dan laut, selanjutnya akan ada angkatan cyber. Itu yang akan kita bangun di Indonesia. Karena ada juga serangan cyber dari luar, itu yang harus kita pahami. Sistem kelembagaan [matra cyber] baru dibangun, nanti kalau kalian sudah selesai bisa bergabung. Kita juga memiliki Universitas Pertahanan, saudara [taruna] jika sudah lulus bisa mengambil S2 di sana,” terang Menhan di hadapan taruna AAU.
Menhan mengingatkan soal cyber war, karena diharapkan taruna AAU yang merupakan putra terbaik bangsa dapat ikut andil ke depannya. Mengingat perang dunia yang terjadi saat ini tidak hanya fisik saja tapi mulai didominasi non fisik atau lebih dikenal cyber war.

Perang ini memang tidak menghancurkan fisik suatu negara tapi dapat melumpuhkan seluruh sistem dalam suatu negara. Berdasarkan pantauan Cyber Operation Center (COC) Kemhan hampir tiap hari Indonesia mendapatkan serangan cyber yang berpotensi mengancam kedaulatan NKRI.
Sebagai bentuk persiapan pertahanan, Indonesia sudah memiliki Universitas Pertahanan dan Pusat Instalasi Strategis Nasional. Tetapi karena serangan cyber yang membahayakan, maka, lanjutnya, Indonesia harus memiliki matra perang yang baru yakni cyber yang di dalamnya nanti gabungan TNI dan para ahli.

Matra cyber ini nantinya tidak hanya sistem informasi dan data saja. Tapi lebih dari sistem komunikasi (Siskom) yang menyangkut keberadaan dan kepemilikan satelit. Dengan adanya siskom maka pertahanan sulit diterobos dari luar.

Berbeda dengan fakta saat ini, bahwa siskom data di Indonesia memang kuat tapi tidak memiliki sistem satelit. Sehingga bisa saja orang atau negara lain masuk dan mengambil data rahasia. Dengan adanya matra cyber diharapkan dapat memproteksi unsur rahasia milik negara.

“Sekarang sudah ada COC, tiap angkatan itu memiliki CERT atau Computer Emergency Response Team. Kalau ada serangan cyber, CERT ini langsung bergerak. Jadi CERT tiap angkatan ini akan dihubungkan dalam sistem intranet,” ujar profesor ITB ini.
Dengan memiliki angkatan perang cyber, Indonesia tidak hanya sebatas mampu bertahan dari cyber war. Tapi harus punya kemampuan menyerang, menganalisa dan melakukan operasi intelijen.










Sumber :  Harianjogja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar