Jumat, 10 April 2015

Ini Para Jagoan Muda Pembuat Simulator Alutsista Lokal Kelas Dunia


Jakarta (MI) : Membuat simulator alutsista bukanlah hal yang mudah. Perlu keuletan dan kemampuan dari berbagai bidang, khususnya teknik, untuk dapat membuatnya. Sebagai salah satu pelaku industri pertahanan, PT Technology and Engineering Simulation (TES) memiliki banyak punggawa muda di balik kesuksesannya.

Pengerjaan simulator-simulator alutsista dikerjakan oleh PT TES di dalam kawasan yang berada di Desa Mekar Wangi, Lembang, Bandung Barat, Jabar. Tempat tersebut dikenal dengan sebutan kawasan workshop atau Bukit 1. Bagian office PT TES sendiri berada di Bukit 2.

"Kita punya satu kawasan besarnya hampir 6 hektar dan siap untuk dikembangkan, tergantung dari dukungan klien terutama pemerintah," ungkap Direktur Utama PT TES Muhamaad Mulia Tirtosudiro di kawasan workshop, Kamis (9/4/2015).

Mulai dari perancangan, pembuatan seluruh komponen, dan konsep sesuai doktrin militer dibuat di tempat tersebut. Banyaknya direkrut anak-anak muda berkompetensi dilakukan PT TES sebagai langkah regenerasi. Tak sedikit pula insinyur di PT TES yang merupakan jebolan dari PT Dirgantara Indonesia, termasuk Mulia sendiri.

"Di sini ada kawasan bukit barat, ada bukit timur, kawasan timur tengah. Anak-anak muda kami senang bekerja di sini. Pemandangannya bagus makanya banyak yang suka nginep di sini juga. Banyak anak muda bergabung sebagai langkah regenerasi," kata putra mantan Kabulog Achmad Tirtosudiro itu.

Dua anak Mul yang masih muda juga membantu sang ayah mengembangkan perusahaannya. Mereka adalah M Iqbal Tirtosudiro yang merupakan Business Development Manager dan M Taufik Tirtosudiro sebagai Project Engineer. Para pekerja muda di PT TES sendiri memang lebih banyak di divisi programming, engineering, dan drafter.

Menurut Iqbal, banyak anak muda bersedia bergabung dengan PT TES karena alasan kecintaan pada tanah air. Dengan terlibat dalam industri pertahanan, PT TES memang merupakan salah satu BUMS yang membantu menyediakan sarana dan prasarana untuk pelatihan TNI.

 "Kalau di sini kita bisa dikasih fasilitas, uang mungkin tidak banyak tapi cukup, suasana kerja juga nyaman, dan ada merah putihnya. Ada sebuah kebanggaan, sebagai warga negara membantu negara dalam bidang kemiliteran," tutur Iqbal di lokasi yang sama.

"Kami ada sekitar 120 pekerja, 50:50 dengan yang senior tapi banyak juga yang muda dan kita masih tetap open bagi yang memiliki cita-cita dan passion yang sama. Banyak dari kami dulunya juga dari PT DI (Dirgantara Indonesia)," sambungnya.

Salah seorang engineer PT TES, Uray Meiviar mengaku ikut tertarik bergabung karena bersama PT TES ia dapat menyalurkan kreativitasnya sekaligus sebagai bentuk kecintaannya kepada Indonesia. Suasana nyaman dan lingkungan kerja yang tidak konvensional juga membuat Uray betah.

"Saya kan senang game terus mendalami di bidang software dan programming. Satu-satunya perusahaan yang bisa menampung minat saya di Indonesia yang saya tahu ya di sini. Saya senang kerja di sini karena sifatnya nggak terlalu kayak kantor, dan kami bisa berkreatvitas dan mengembangkan potensi lebih banyak, itu pasti didukung," aku Uray.

Uray pun memberi contoh, pengembangan simulator pesawat aerobatic yang sedang PT TES kerjakan saat ini berawal dari ide kesenangan para pekerja akan dunia game, terutama game virtual. Akhirnya mereka pun menggabungkan ide tersebut dengan ilmu teknologi sekarang untuk menjadi simulator.

"Orang biasanya kan kerja cari karier dan uang, tapi buat saya kita nggak cukuplah seperti itu aja. Tapi gimana caranya mengembangkan potensi agar berguna buat negara, dan itu membanggakan," tukas Uray.

Pekerjaan yang berhubungan dengan alat biasanya dimayoritasi oleh kaum laki-laki. Salah seorang staf perempuan di PT TES, Ratih Risnawati mengatakan senang bekerja di tengah-tengah lingkungan yang mayoritas laki-laki, terutama karena urusan gender bukanlah isu di tempat kerjanya.

"Kerja di sini seru, enak, kekeluargaan dan fun. Tuntutan di setiap pekerjaan pasti ada tapi tetep senang karena emang anak-anaknya enak jadi dengan sendirinya pun menyenangkan. Terus juga bangga karena bisa memberikan sesuatu untuk negara, meski nggak semuanya tapi ada jadi mikir sebagian yang mereka (TNI) pakai, kami yang buat," ucap Ratih yang merupakan seorang Mechanical Drafter di PT TES tersebut.

Walau lingkungan pekerjaan yang relatif fun dan terbilang suasananya cukup santai, bukan berarti pekerja-pekerja muda PT TES dapat bermalas-malasan. Tak jarang mereka pun sampai harus begadang untuk mengejar deadline.

"Kadang kerjaannya memang multiproject, sampai harus begadang, apalagi kalau deadline. Makanya buat yang masih bujangan atau yang istrinya di luar banyak yang suka nginep di sini. Kadang jam kerjanya kita malah kebalik, jadinya malam sampai pagi atau siang. Tapi basic kerjanya tetap Senin-Jumat," cerita sound engineer PT TES, Handy Hadiwikarta di kantornya.

Pria gimbal ini pun mengaku mendapat banyak wawasan, terutama di bidang kemiliteran, dengan bergabung dalam keluarga PT TES. Kesulitan yang dihadapi saat mengerjakan program karena suasana pekerjaan yang menyenangkan pun menjadi seolah-olah impas.

"Susah itu relatif, memang ada apalagi kalau simulator nggak semua bisa diterima dengan mudah. Tapi menyenangkan di sini karena kebetulan karena pak Mul juga asik. Dua anaknya masih muda juga kerja di sini jadi tahu seperti apa yang sesuai dengan kita-kita. Terus di sini ada fasilitas shuttle dari dan untuk ke (Bandung) kota," imbuhnya.












Sumber : Detik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar