Senin, 06 Oktober 2014

TNI Siap Tampilkan Kejutan

DESING: KRI Sutanto melepaskan tembakan dari peluncur roket RBU-600 anti kapal selam saat demonstrasi bantuan tembakan kapal dan anti kapal selam di Selat Madura. Foto: Dipta Wahyu/Jawa Pos

SURABAYA (MI) : Puncak acara HUT ke-69 TNI Selasa (7/10) lusa bakal membukukan sejarah. Parameternya berdasar geladi bersih yang digeber di dermaga Ujung, Mako Armatim kemarin (4/10).
Acara yang dikemas mirip aslinya nanti di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku inspektur upacara, diklaim Panglima TNI Jendral Moeldoko terbesar dalam sejarah TNI sejak TNI lahir 5 Oktober 1945.

’’Demonstrasi yang baru kita saksikan tadi mencerminkan prajurit TNI sudah terkelola secara baik,’’ ucap Moeldoko di gedung Candrasa, Mako Armatim usai geladi.

Latihan terakhir menjelang hari H dikemas utuh melibatkan tiga matra. Termasuk penghitungan waktu supaya acara selesai pukul 12.00. Nyatanya, acara pamungkas lambang-lambang kesatuan meninggalkan lapangan menunjukkan waktu hampir pukul 12.30.
Dikatakan terbesar karena penyelenggaraan melibatkan tiga angkatan lengkap alutsista KRI. Demonstrasi kapal perang selama ini baru bisa dihelat di dermaga Ujung, Armatim yang bersebelahan dengan Selat Madura.

Sedangkan penyelenggaraan enam tahun terakhir bergantian di Lapangan Udara (Lanud) Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur maupun mako Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur tanpa melibatkan unsur KRI.
Sebagai perbandingan HUT TNI di Armatim sebelumnya pada 2008 melibatkan lebih dari 100 kendaraan tempur (ranpur), 50 pesawat berbagai jenis, dan KRI tidak lebih dari 30. Pada HUT tahun lalu di Lanud Halim, jumlah alutsista tanpa KRI nyaris sama.

Bandingkan dengan penyelenggaraan 2014. Selain menerjunkan lebih dari 200 ranpur gabungan TNI AD, TNI AL, dan TNI AU, jumlah KRI dan pesawat meningkat 2-3 kali.
Dalam HUT TNI terakhir era Presiden SBY dengan Kabinet Indonesia Bersatu II, Moeldoko terlihat berupaya menunjukkan peringatan tahun ini menjadi yang paling spektakuler. Dengan bahasa diplomatis, perwira tinggi bintang empat dari Kediri itu menyatakan peringatan sebagai pertanggungjawaban pemerintah terhadap rakyat.

’’Komposisi alutsista produksi anak negeri dengan luar negeri memang masih dominasi dari luar. Tapi yang kami tampilkan mayoritas pengadaan selama 10 tahun terakhir,’’ ujar penerima gelar Adhi Makayasa selaku alumnus Akabri 1981 terbaik.
Dari sekian banyak produk, alutsista produk dalam negeri di antaranya panser Anoa dan Komodo, tank AMX, helikopter Nbell 412, dan pesawat CN 235.

Tidak terlihat KSAD Jendral TNI Gatot Nurmantio. Moeldoko didampingi KSAL Laksamana TNI Marsetio, KSAU Marsekal TNI I.B. Putu Dunia, dan Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan dan Latihan TNI-AD Letjen TNI Lodewijk F. Paulus.
Pagi saat geladi berlangsung, mantan Pangdam V/Brawijaya itu masih terlihat. ’’KSAD baru saja dipanggil presiden ke Jakarta,’’ lanjut Moeldoko tanpa merinci alasan.

Dari ratusan alutsista yang ditampilkan, kejanggalan terlihat pada helikopter tempur Apache. Ketika demonstrasi dan flypass, bagian ekor helikopter warna hijau tua itu tertulis United State Army (Angkatan Darat Amerika Serikat).

Menurut penjelasan Gatot di Makodam V/Brawijaya Jumat (3/10) malam, sudah ada komitmen antara TNI-AD dan US Army dari rencana pembelian helikopter tersebut.
Diantaranya penggunaan bendera merah putih di bodi helikopter dan salah satu pilot heli dari Puspenerbad. Nyatanya, keterangan Gatot berbeda dengan fakta. Sedangkan Moeldoko menyatakan bahwa pembelian 8 heli Apache dilakukan bertahap sampai 2018.

’’Uang cicilan sudah ada. Ke depannya tergantung pemerintahan baru (kabinet Jokowi) mendatang,’’ tukasnya.
Dalam geladi bersih empat jam lebih itu, acara demonstrasi dan defile material menjadi pusat perhatian anggota TNI dan keluarga yang tidak terlibat rangkaian parade upacara. Geladi dibuka manuver pesawat Sukhoi membelah langit Selat Madura dengan suara menggelegar.
Rangkaian ditutup atraksi ”harakiri” tank amfibi Korps Marinir LVT menceburkan diri di dermaga Ujung disaksikan helikopter Apache yang terbang rendah.
Sumber : JPNN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar