Tuesday, April 9, 2013

Presiden Minta TNI Ikuti Gaya Pemimpinnya Dulu



JAKARTA (MI) : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta kepada jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya perwira pertama dan perwira menengah agar selalu dekat dengan jajaran prajurit. Kedekatan dengan prajurit diyakini dapat mencegah terjadinya peristiwa seperti pembunuhan empat tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta, maupun bentrokan antar kesatuan.
Harapan itu disampaikan Presiden ketika acara ramah tamah dengan jajaran TNI di Mabes TNI AD, Jakarta, Selasa (9/4/2013). Ikut dalam acara Wakil Presiden Boediono, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, dan Sekretaris Kabinet Dipo Alam.
Presiden mengatakan, perkembangan teknologi membuat hubungan antarmasyarakat menjadi berjarak. Jika dulu banyak hal dilakukan dengan tatap muka, kini bisa dilakukan jarak jauh melalui teknologi.
Presiden lalu bercerita gaya kepemimpinan ketika dirinya masih menjadi perwira menengah di AD. Ketika itu, SBY mengaku hampir selama 24 jam bersama prajurit di kesatuannya. "Saya jam 6 pagi senam bareng prajurit, jam 7 apel, lalu pelajaran. Jam 2 siang apel, lalu pulang. Jam 4 sore main voli atau bola. Malam main gaple sambil ngobrol-ngobrol dengarkan cerita-cerita lucu, ceritakan juga keluarganya. Besoknya bagun pagi senam," kata SBY.
"Oleh karena itu, letnan, kapten, mayor, sampai letnan kolonel harus dekat dan sehari-harinya bersama mereka. Tidak mungkin mereka tidak mengetahui apa yang terjadi di kesatuan itu. Sensitif, peka atas keganjilan, ada kumpul-kumpul enggak wajar," tambahnya.
Presiden meminta kepada jajaran perwira perwira dan pewira menengah di daerah agar pola hubungan seperti itu dihidupkan kembali. Pasalnya, jajaran diatas mereka sudah berjarak dengan prajurit. SBY meminta agar kedepan jangan sampai ada komandan yang tidak tahu anggotanya melakukan hal yang menyimpang.
"Apalagi (melakukannya) dalam kelompok. Meskipun dia tidak terlibat langsung, mereka memiliki tanggung jawab. Apalagi kalau terlibat. Memang berat sebagai komandan," pungkas Presiden. 
Sumber : KOMPAS

No comments:

Post a Comment