Jumat, 15 Mei 2015

Warga Perbatasan di Nunukan Terpaksa "Berkewarganegaraan" Ganda


NUNUKAN (MI) : Kartu Tanda Penduduk KTP dan Identity Card (bagi warga Malaysia) adalah dua kartu idenitas yang tidak asing dan kebanyakan dimiliki oleh warga di wilayah perbatasan Kecamatan Krayan maupun Kecamatan Krayan Selatan. Mereka sangat tahu bahwa memiliki dua kartu identitas itu adalah perbuatan melanggar hukum dan bisa dikenai sanksi.

Namun, demi memenuhi kebutuhan hidup yang lebih layak, mereka terpaksa menempuh risiko tersebut. Mantan anggota DPRD Nunukan asal Krayan, Kornalius Tadem mengatakan, sebagian besar warga Krayan terpaksa menggunakan IC untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak di Malaysia.

”Kalau mereka menggunakan IC, mereka tidak akan mendapat pekerjaan seperti bersih-bersih rumput atau mengupas kulit kayu, atau bekerja sebagai buruh kasar di perkebunan sawit. Dengan mengguakan IC, mereka bisa mendapatkan pekerjaan lebih baik.” ujar Kornalius, Kamis (14/05/2015).
Untuk mendapatkan IC, warga Kecamatan Krayan tidak akan mengalami kesulitan, karena banyak sekali sanak saudara mereka yang sudah menjadi warga negara Malaysia yang siap membantu.

Sekretaris Jenderal Persatuan Adat Dayak Kalimantan Gat Kaleb mengatakan, sangat mudah membuat IC Malaysia selagi ada warga negara Malaysia yang mau menjamin mereka. Bahkan lebih dari separuh warga Krayan disinyalir memiliki kartu identitas ganda.

”Mendapat IC tidak sulit karena kita punya keluarga di sana. Yang penting di sana ada yang mau menjamin kita itu sudah bisa.” ujar Gat Kaleb.

Sulitnya wilayah perbatasan Kecamatan Krayan dijangkau dari Indonesia membuat 18.000 warganya tidak memiliki pilihan pofesi selain bertani. Satu-satunya alternatif untuk mendapat pilihan pekerjaan selain bertani adalah dengan bekerja di Malaysia. Mengapa Malaysia? Karena menuju Negara Bagian Sabah lebih mudah daripada menuju ibu kota Nunukan.

“Kami memang menghasilkan beras, tapi belum bisa dipasarkan ke mana-mana. Untuk mencari biaya anak sekolah, kami terpaksa bekerja di Malaysia. Kami bekerja di Malaysia kerena faktor ekonomi.” ucap Gat Kaleb.
Meski bujukan untuk pindah ke negara Malaysia untuk mendapatkan kebutuhan hidup lebih layak dari kerabatnya sering mampir, Gat Kaleb mengaku masih cinta Indonesia. Namun dia berharap Pemerintah Indonesia lebih memperhatikan nasib warga perbatasan.

Seminggu terakhir, warga di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan kaeulitan mendapatkan kebutuhan pokok mereka karena Pemerintah Malaysia memeperketat kebijakan keluarnya barang kebutuhan pokok bersubsidi dari Malaysia.

“Kita minta pemerintah melegalkan jalur perdaganag di wilayah perbatasan. Dengan cukai pun harga barang Malaysia lebih murah dibandingkan dengan mendatangkan dari Indonesia. Ongkos angkut dari Nunukan 1 kilo bisa Rp 30 ribu. Kalau barang Malaysia kena cukai, gula misalnya paling mahal 15 ribu per kilo. Kita masih bisa beli.” kata Gat Kaleb.








Sumber : KOMPAS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar