Selasa, 03 Maret 2015

TNI AU berharap pembelian Super Tucano dari Brasil jalan terus


Jakarta (MI) : Pemerintah Brasil mengancam menghentikan hubungan bilateral terhadap Indonesia terkait warga negara mereka yang dieksekusi mati lantaran mengedarkan narkoba. Kerjasama Alat Utama Sistem Pertahanan pun dipastikan terganggu jika hubungan kedua negara tak membaik.

Pemerintah Indonesia telah membeli pesawat Super Tucano versi EMB-314/A-29B dari Brasil. Rencananya sebanyak 16 unit pesawat serang darat ini akan memperkuat untuk TNI Angkatan Udara. Saat ini sudah ada 8 Super Tucano yang dioperasikan TNI AU.


Namun pembelian lanjutan tersebut terancam batal lantaran hubungan Indonesia dan Brasil yang memanas terkait hukuman mati.


Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Madya Agus Supriatna mengharapkan pesawat Super Tucano EMB 314/A-29 tetap dibeli oleh pemerintah Indonesia.


"Kita sih inginnya jalan terus karena sayang sudah dibeli," kata Marsekal Agus usai Rapim TNI-Polri di Gedung PTIK,Jakarta, Selasa (3/3).


Apabila pesawat Super Tucano rusak. Dia mengaku tak mengkhawatirkan suku cadang pesawat Super Tucano.


"Kita tak khawatir karena waktu beli sekalian sama suku cadangnya. Jadi masih bisa jalan," sambungnya.


Namun pihaknya hanya mengikuti kebijakan pemerintah Indonesia jika menghentikan kerjasama alutsista. Sebab pihaknya tak punya wewenang untuk menentukan kebijakan kerjasama alutsista.


"Itu domainnya pemerintah karena mereka yang menentukan kebijakan kita hanya mengikuti saja," ucapnya.



TNI tak repot beli suku cadang Super Tucano


Kepala pusat penerangan TNI Mayjen M Fuad Basya mengaku tak kebingungan apabila pesawat Super Tucano EMB 314/A-29 rusak. Pasalnya suku cadang pesawat tersebut masih bisa dibeli dari Brasil.

"Tidak ada masalah masih berjalan, masih bisa suku cadangnya dibeli dari Brasil," kata Fuad di sela-sela Rapim TNI-Polri di Auditorium Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian,Jakarta, Selasa (3/3).

Menurut dia, kerjasama alat utama sistem pertahanan Indonesia dan Brasil masih terus berjalan. Dia mengatakan, tak ada masalah dalam hubungan pertahanan Indonesia dengan Brasil akibat warga Brasil Marco Archer Cardoso Moreira telah dieksekusi mati.

"Yang bermasalah itu cuma politiknya saja tapi kerjasama alutsista tetap berjalan. Masih berjalan terus kerjasamanya alutsista. Pemerintah belum bilang menghentikan kerjasama," tukasnya.

Diketahui sebelumnya, Kementerian Pertahanan mengevaluasi pembelian alat utama sistem pertahanan dari Brasil. Hal itu karena ada penolakan Duta besar Indonesia oleh Brasil.

"Menunda proses pembicaraan pengesahan persetujuan kerjasama bidang pertahanan," ujarnya.










Sumber : Merdeka

4 komentar:

  1. Menurut Saya Tidak Usah lanjutkan Pembelian Pesawat Brazil, Masih banyak Produsen pesawat yang lebih hebat.
    Sangat bahaya kerjasama dengan negara yg tidak punya komitmen n plinplan. seperti kejadian yang menimpa duta besar kita. bisa2 mreka memutuskan sebelah pihak setelah kita selesai pembelian pesawat mreka, yang akhirnya mengenai perawatan dan suku cadang akan putus,, kecuali transfer teknologi dan suku cadang bisa dibuat juga di indonesia

    BalasHapus
  2. Saran saya kerjasama pertahanan indonesia dan brasil dilanjutkan saja.kami warga indonesia memang sakit hati masalah dubes yg ada dibrasil.tapi kita harus lihat kedepan konflik laut cina selatan itu nyata dan menunggu waktu.konflik itu pecah..dan kita butuh astros dan tucano untuk ditaruh dinatuna menjaga nkri..jagan sampai kasus ambalat dan ligitan terulang kembali.

    BalasHapus
  3. hukuman jelas tetap berjalan,sepertinya tdk bs diganggu gugat..... tp hub. hrs tetap berlanjut jd paska eksekusi soft diplomasi perlu dikedepankan.... tp ingat, jangan membuat kesan indonesia meminta2, caranya hrs elegan.... politik standar ganda/wajah ganda seperti yg diterapkan AS sepertinya bs ditiru.... habis ngebom, ngembargo, travel warning dll trus atas nama persahabatan, kemanusiaan, dll dipeluk deh mantan musuhnya... mskipun jelas kita tdk tahu isi hati dan tujuannya....

    BalasHapus