Rabu, 20 Mei 2015

Perwira Siswa TNI Diskusi Litbang Penerbangan dan Antariksa di LAPAN


Bogor (MI) : Dari total 310 bandar udara (bandara) di Provinsi Papua, 90 persen diantaranya mempunyai landasan kurang dari 800 meter. Sebut saja bandara di Sugapa, Kabupaten Intan Jaya dan di Sinak, Kabupaten Puncak yang masing-masing memiliki panjang landasan 550 dan 565 meter dengan medan tanah keras. Untuk itu, LAPAN bekerjasama dengan instansi terkait mengembangkan pesawat N219 yang mampu beroperasi di landasan pendek untuk meningkatkan konektivitas daerah terpencil dan perbatasan di Indonesia.

“N219 dirancang memiliki kemampuan sebagai pesawat multi guna, tidak hanya sebagai pesawat pengangkut penumpang, tetapi juga bisa digunakan untuk misi pemantauan dan patroli perbatasan, evakuasi medis bahkan pesawat kargo,” ujar Kepala Bidang Aerodinamika Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) LAPAN Agus Aribowo. 

Hal tersebut disampaikan oleh Agus saat sesi presentasi dan diskusi kegiatan kunjungan Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) XLII Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI tahun 2015 di Pustekbang LAPAN, Rumpin, Bogor, Selasa (19/5). Sebanyak 48 orang yang terdiri dari Pasis dan pendamping yang merupakan gabungan dari tiga matra darat, laut dan udara serta satu orang Pasis dari Mali, Afrika, antusias berdiskusi hasil litbangyasa penerbangan dan antariksa di LAPAN.

Dalam sambutannya, Kepala Pusat Teknologi Roket LAPAN Sutrisno menjelaskan mengenai tugas pokok, fungsi dan kompetensi utama LAPAN sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan. Ia menyambut baik kegiatan kunjungan tersebut, mengingat kerja sama sinergis antara LAPAN dengan TNI sudah berlangsung cukup lama. “Aplikasi kerja sama di bidang peroketan, seperti propelan, telah dilaksanakan dengan Dislitbang TNI AU sejak 2003 silam,” Sutrisno menjelaskan. 

Pada kunjungan tersebut, Komandan Korps Siswa (Dankorsis) Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI Laksamana Pertama TNI Agung Prasetiawan M.AP., menjelaskan tujuan kunjungan untuk memberi pemahaman kepada para Pasis terkait pentingnya industri stategis serta menemukan solusi atas permasalahan terkait industri tersebut dalam rangka pertahanan negara. 

“Selain itu, kunjungan ini dimaksudkan untuk mendapatkan data-data primer yang akan dicocokkan dengan data-data sekunder yang telah dianalisa secara komprehensif oleh Pasis tentang sejauh mana peran serta dari industri strategis dalam mendukung kebutuhan TNI di bidang alutsista,” Agung menambahkan. 

Di bidang peroketan, Peneliti Pusat Teknologi Roket (Pustekroket) LAPAN Lilis Mariani memberikan presentasi tentang hasil litbangyasa teknologi peroketan mulai dari pengembangan roket sonda untuk mengukur parameter atmosfer hingga pengembangan roket pengorbit satelit (RPS) di masa mendatang. 

Kunjungan diakhiri dengan peninjauan fasilitas milik LAPAN, diantaranya laboratorium aerodinamika, aerostruktur dan stasiun bumi penerima data satelit TUBSAT. Lalu, demo terbang LSU-01 menjadi kegiatan pamungkas kunjungan tersebut.  









Sumber : LAPAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar