Tuesday, November 4, 2025

TNI Bentuk 750 Batalyon Tempur dan Satuan Antariksa


Jakarta (MI) : Tentara Nasional Indonesia (TNI) tengah menyiapkan langkah besar dalam memperkuat postur pertahanan nasional dengan rencana pembentukan 750 batalyon tempur baru. Program ini menjadi bagian dari penerapan konsep Optimum Essential Force (OEF), yang menjadi arah kebijakan pembangunan kekuatan pertahanan jangka menengah Indonesia.

Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah, menjelaskan bahwa rencana tersebut masih dalam tahap perencanaan dan akan disesuaikan dengan kebutuhan operasional serta kebijakan pertahanan nasional yang berlaku.

“Terkait rencana pembentukan 750 batalyon tempur, lima Koarmada, serta satuan antariksa di bawah Kohanudnas, hal tersebut masih dalam tahap perencanaan yang akan disesuaikan dengan kebutuhan operasional dan kebijakan pertahanan nasional,” ujar Freddy di Jakarta, Senin (3/11).

Menurut Freddy, peningkatan jumlah dan kemampuan satuan tempur ini merupakan upaya strategis untuk memperkuat daya tangkal militer Indonesia dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Peningkatan jumlah dan kemampuan satuan akan memperkuat daya tangkal serta memperluas kemampuan proyeksi kekuatan TNI di seluruh wilayah yurisdiksi NKRI,” tambahnya.

Meski belum dijelaskan secara rinci mengenai tahapan pelaksanaannya, Freddy menegaskan bahwa seluruh proses pembangunan kekuatan pertahanan ini berada di bawah koordinasi langsung Markas Besar TNI (Mabes TNI). Program ini juga sejalan dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, yang menempatkan modernisasi pertahanan sebagai prioritas utama.

Fokus Penguatan di Semua Matra



Rencana besar ini turut dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar oleh Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam). Rapat tersebut dipimpin oleh Brigjen TNI (Mar) Kresno Pratowo, selaku Asisten Deputi Koordinasi Kekuatan, Kemampuan, dan Kerja Sama Pertahanan.

Dalam rapat itu, Kresno menegaskan bahwa pengembangan Optimum Essential Force menjadi salah satu fokus utama untuk mewujudkan kekuatan pertahanan yang tangguh dan adaptif terhadap tantangan global.

Menurutnya, TNI Angkatan Darat (AD) akan memusatkan pembangunan kekuatan di wilayah-wilayah strategis, terutama daerah perbatasan seperti Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Timur, dengan target pembentukan 750 batalyon tempur hingga tahun 2029.

Sementara itu, TNI Angkatan Laut (AL) akan memperkuat kemampuan maritim nasional melalui pembentukan lima Komando Armada (Koarmada) dan lima belas Komando Daerah Maritim (Kodaeral). Modernisasi alutsista laut juga akan diarahkan pada peningkatan sistem berbasis teknologi informasi dan sensor canggih.

Di sisi lain, TNI Angkatan Udara (AU) akan fokus pada penguatan sistem pertahanan udara nasional dengan membentuk 33 Satuan Radar (Satrad) serta membangun Satuan Antariksa di bawah kendali Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas).

Menuju Kekuatan TNI yang Modern dan Terintegrasi

Melalui langkah strategis ini, pemerintah menargetkan pembangunan kekuatan TNI yang modern, terintegrasi, dan berdaya tangkal tinggi, guna menghadapi tantangan pertahanan di masa depan. Peningkatan jumlah batalyon, armada, dan sistem radar diharapkan menjadi pondasi utama menuju kemandirian pertahanan nasional.

Dengan visi jangka menengah hingga 2029, TNI terus bertransformasi menuju kekuatan militer yang siap menjaga stabilitas kawasan dan memperkuat posisi Indonesia di tingkat regional maupun global.

No comments:

Post a Comment