Kamis, 23 April 2015

Kisah-kisah mengharukan polisi dan TNI di perbatasan


Merdeka (MI) : Menjaga perbatasan dari penyusupan asing, sudah menjadi tugas Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Meski menghadapi berbagai keterbatasan, namun mereka diharuskan mampu melaksanakan seluruh tugasnya dengan baik.

Kekurangan itu tak lantas mengurangi semangat mereka untuk menengakkan kedaulatan Indonesia di wilayah perbatasan. Pantang bagi para pasukan untuk mundur, apalagi mereka sudah menjalani pelatihan yang cukup berat agar dapat bertahan di medan apapun.

Kondisi inilah yang dialami beberapa TNI sebagai penjaga perbatasan, baik pulau terluar maupun dataran. Demi mendapatkan air minum, mereka bahkan harus menunggu hujan turun.

Hal yang sama juga dilakukan kepolisian. Kedaulatan merupakan sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, meski untuk melakukannya harus melalui medan yang sangat berat.

Berikut kisah-kisah mengharukan polisi dan TNI di perbatasan yang dirangkum merdeka.com :


1.
Minum air hujan


Meski menghadapi berbagai kekurangan saat menjaga pulau terluar di Indonesia. 34 Personel TNI tetap siaga menjaga kedaulatan RI dari penyusupan asing, mulai dari pelaku terorisme maupun penyeludup.

Demi menjaga kebugaran saat melaksanakan tugasnya, mereka sampai rela meminum air hujan. Sebab, di sekitar Pulau Rundo tidak terdapat air bersih.

Kondisi ini terungkap saat Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu melakukan kunjungan ke Aceh 21 November 2014 lalu. Menhan mengaku kasihan melihat prajurit yang bertugas menjaga perbatasan laut harus minum air hujan.

"Waktu saya sampai di lokasi, sangat sangat kasihan melihat prajurit harus mengonsumsi air hujan," kata Ryamizard, Kamis (20/11) di Banda Aceh.

Kendati demikian, Ryamizard Ryacudu mengaku pasukan TNI sudah terlatih menghadapi persoalan seperti itu. Karena pasukan Kopassus dan Raider memiliki keahlian khusus dan siap menghadapi dalam segala situasi dan kondisi.

2.
Pos jaga TNI nyaris ambruk
 Pos perbatasan Sei Kaca Nunukan nyaris ambruk
Foto : Antara


Keberadaan pos jaga di Sei Kaca, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara sudah nyaris ambruk. Padahal, keberadaannya sangat penting untuk memantau aktivitas di sekitar perbatasan antara Indonesia dan Malaysia.

Kondisi ini mendapat perhatian khusus dari Komandan Komando Lapangan Operasi (Dankolapops), Brigjen TNI Teguh Arief Indratmoko melakukan kunjungan ke lokasi, Minggu (15/2/2015) lalu. Dia sempat berjanji untuk melakukan perbaikan agar para prajurit bisa menjalani tugasnya dengan nyaman.

Selain menemukan pos jaga yang nyaris ambruk, Teguh juga menerima keluhan dari prajurit dari Batalion Infanteri Lintas Udara 433/Julu Siri Kostrad yang menempati pos gabungan bersama TNI AD dengan Tentara Darat Diraja Malaysia (TDRM) di Kecamatan Seimenggaris. Mereka merasa kesulitan lantaran susah mendapatkan air bersih.

Selama ini, kata Teguh, prajurit di pos itu hanya mengonsumsi air hujan yang ditampung buat digunakan saban hari. Sehingga, lanjut dia, hal itu akan menyulitkan apabila suatu waktu terjadi musim kemarau. Tetapi dia berjanji dalam waktu dekat ini akan membuatkan sumur bor hidrolik supaya ketersediaan air bersih buat prajurit jaga perbatasan dapat terpenuhi.

Pos jaga perbatasan Sei Kaca yang nyaris ambruk ini letaknya tidak jauh dari pos pemantau polisi maritim Malaysia di Pulau Kayu Mati. Beda dengan milik Indonesia, markas milik negeri tetangga itu terlihat lebih kokoh karena dibuat permanen dengan tiang beton dan berdinding tembok.

3.
Pertahankan merah putih di perbatasan
Kisah-kisah mengharukan polisi dan TNI di perbatasan


Berkibarnya bendera Papua Nugini di wilayah RI tidak membuat Kepala Kepolisian Sub Sektor (Kapolsubsektor) Oksamol Briptu Victor Merani berdiam diri. Dia langsung bergerak cepat dan memimpin rombongan yang terdiri dari pemda dan pemimpin adat setempat.

Lokasi pengibaran bendera itu berada di Kampung Tomka dan Kampung Autpahik. Untuk mencapai kedua tempat itu, Viktor dan rombongan harus berjalan kaki selama empat jam, yang melalui medan pegunungan, sungai yang tertutup salju serta hutan rimba. Fasilitas dan peralatan yang dibawa pun sangat terbatas.

Namun, jauhnya perjalanan ini tak membuat Viktor dan rombongannya menyerah begitu saja. Bahkan Viktor dan rombongan sempat mengibarkan merah putih di puncak Gunung Taehikin.

Setibanya di dua kampung itu, Viktor mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari warga kedua kampung tersebut. Mereka mengancam dan mengajak perang. Namun, ancaman itu tak digubris, Viktor tetap menghadapi kemarahan warga dengan tenang.

Dalam pertemuannya dengan warga setempat, Viktor menjelaskan batas-batas wilayah RI dan menyatakan kampung mereka masuk ke dalam NKRI. Pendekatan dan penjelasan ini ternyata mampu meredam emosi warga PNG yang tinggal di perbatasan Indonesia. Dengan sukarela, mereka menurunkan bendera tersebut dan merah putih kembali berkibar.


4.
Jaga perbatasan demi NKRI
Kisah-kisah mengharukan polisi dan TNI di perbatasan


Brigadir Polisi Yose Daquinha rela meninggalkan kampung halamannya di Timor Timur (kini Timor Leste) untuk tetap bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berkat dedikasi dan loyalitasnya dalam membantu tugas-tugas polisi, Yose diangkat oleh Kapolda Timor Timur, Timbul Silaen.

Setelah resmi berseragam Polri, Yose ditempatkan di Polres Aileuo, Timor Timur yang merupakan tanah kelahirannya. Usai referendum yang digelar pada September 1999, Yose rela meninggalkan Aileuo dan meninggalkan saudara-saudaranya, dia memilih setia pada NKRI dan tetap menjadi bagian dari Polri.

Bahkan, Brigpol Yose sangat bangga ditugaskan sebagai polisi penjaga perbatasan. Dia kerap menolak dipindahtugaskan ke tempat lain.

Selain menjalani tugas pokok sebagai penjaga perbatasan, dia bekerja sama dengan masyarakat memberi penyuluhan pertanian, berkebun menanam jagung dan ubi di kebun tadah hujan yang tandus serta mengelola sawah di samping Pospol.











Sumber : Merdeka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar