Saturday, June 23, 2012

Hikayat OWA Class Indonesia


                         
                                  (OWA Class Kebanggan Angkatan laut Indonesia)

Bila di Angkatan Laut Amerika memiliki IOWA Class, kapal perang legendaris yang masih aktif berdinas. Maka dikalangan Angkatan laut Indonesia pun dikenal kapal legendaris yang tak kalah garangnya, apa lagi jika bukan OWA Class atau KRI Oswald Siahaan, kapal perang yang menjadi buah bibir beberapa saat yang lalu setelah berhasil meluncurkan rudal anti kapal Yakhont yang menerbitkan kemasygulan jiran Indonesia. OWA Class membawa efek Yakhont lebih jauh dari sekedar rasa bangga dalam dada TNI AL tapi juga efek deternt bagi pihak-pihak yang berniat mengusik ketenangan NKRI Tercinta.

Owa Class, Monster Laut kebanggan Indonesia.

Angkatan laut Indonesia tentu saja bangga bila menyaksikan keberhasilan peluncuran rudal anti kapal Yakhont buatan Rusia itu. Rudal dengan kecepatan 2 march atau setara dua kali kecepatan suara pantas menebar rasa takut bagi pihak-pihak yang berkeinginan mengganggua wilayah NKRI, wajar karena rudal ini mampu melesat sejauh 300 kilometer.

Hikayat OWA Class pun tak kalah menariknya. Sebelum masuk masa dinas dilingkungan Angkatan Laut Indonesia, OWA dan beberapa kerabatnya yang tergabung dalam kapal perang Kelas Van Speijk ini merupakan salah satu armada perang Angkatan Laut Belanda.

Menurut hikayat penamaan Van Speijk tak lain untuk mengenang Jan Carolus Josephus van Speijk, salah seorang letnan angkatan laut Belanda yang tewas saat perang saudara Belanda-Belgia pada 5 Februari 1831.

                     (OWA Class saat masih berdinas di Angkatan Laut Belanda).

Saking terkenalnya nama Van Speijk, sebuah dekrit kerajaan (Koninklijk Besluit nomor 81, 11 Februari 1831) yang dikeluarkan oleh Raja William I mengucapkan bahwa selama Angkatan Laut Belanda masih berlayar, akan selalu ada sebuah kapal bernama 'Van Speijk' untuk memastikan ingatan atas keberanian sang letnan. Sebanyak tujuh kapal dari angkatan laut belanda menggunakan nama tersebut. Dikemudian hari, nama Van Speijk Class resmi disematkan pada kapal perusak kawal rudal modern Belanda yang mulai di bangun oleh galangan kapal Nederlandse Dok en Scheepsbouw Mij, Amsterdam, Belanda.

Van Speijk Class sendiri mulai bertugas sekitar tahun 1967, kemampuan dalam mengarungi samudra memang dapat diandalkan walaupun harus menghadapi gelombang besar sekalipun. Kemampuan manuver yang mumpuni inilah yang kemudian membuat Angkatan laut Indonesia kepicut membeli kapal tersebut, walau ek angkatan laut belanda, namun kualitas kemampuan dan kesiapan kepal perang kawal rudal itu tetap terjaga baik.

Berbeda dengan Parcshim Class indonesia yang mendapatkan perombakan “ekstra hot”, Van Speijk Class justru tak seperti itu, wajar sebab selama ini kapal tersebut dirawat dengan baik oleh pemilik sebelumnya, bahkan sebelum kapal-kapal tersebut di serahkan kepada Angkatan laut indonesia pada tahun 1977-1980, armada Van Speijk Class telah diberi peningkatan kemampuan Termasuk di antaranya adalah pemasangan sistem pertahanan rudal anti pesawat (SAM, Sea to Air Missile) Mistral menggantikan Sea Cat. Sampai saat ini Van Speijk Class masih aktif berdinas dalam Angkatan Laut belanda.

                            (Siap Selalu Mengawal Perairan Laut NKRI tercinta)

Setelah masuk masa dinas dan bergabung dengan Angkatan Laut kebanggan negera ini, KRI OWA berserta kerabatnya berganti namanya dari Van Spijk Class menjadi kapal perang Fregat Ahmad Yani Class. Tentu saja karena pernah digunakan oleh AL-Belanda, keseluruhan armada tersebut namanya mengalami pergantian yaitu:

HNLMS Tjerk Hiddes (F 804) berganti nama menjadi KRI Ahmad Yani 351, HNLMS Evertsen (F 815) berubah nama menjadi KRI Abdul Halim Perdana Kusuma (355), kemudian HNLMS Isaac Sweers (F 814) di tasbihkan menjadi KRI Karel Satsuit Tubun (356), ada pula HNLMS Van Speijk (F 802) berganti nama menjadi KRI Slamet Riyadi (352), setelah itu HNLMS Van Galen F 803) berganti nama menjadi KRI Yos Sudarso (353) dan terakhir HNLMS Van Nes ( F 805) setelah ditasmiyahkan menjadi nama baru, KRI OSWALD SIAHAAN (354) atau yang dikenal dengan nama lain KRI OWA Class Indonesia.

Tentu saja terlalu naif bagi kita bila menyamakan kondisi Ahmad Yani Class saat ini dengan keadaan yang dulu, saat ini hampir semua Ahmad Yani atau Van Speijk Class Indonesia ini telah dilakukan peningkatan kemampuan, diantaranya mengganti mesin-mesin baru, alat komunikasi dan navigasi, armament modern dan perawatan Armor beserta mesin secara berkala. Bahkan beberapa tahun yang lalu KRI Oswald Siahaan alias OWA Class mengalami repowering sehingga keadaan KRI kebanggan negara ini kembali tampil baru lagi.

Di bidang sensor dan elektronis,Ahmad Yani class termasuk diantaranya KRI Oswald Siahaan diperlengkapi radar LW-03 2-D air search, sonar PHS-32. Juga diperlengkapi dengan kontrol penembakan (fire control) M-44 SAM control serta perangkat perang elektronik UA-8/9 intercept. Sebagai pertahanan diri mempunyai 2 peluncur decoy RL. Keberadaan radar terbaru buatan asli anak bangsa INDERA MX-2HC, makin melengkapi kegaharan kapal perang Angkatan Laut Kebanggan indonesia Ini.

                             (persiapan menjelang peluncuran rudal yakhont)

KRI Oswald Siahaan memiliki berat 2,940 ton. Dengan dimensi 113,42 meter x 12,51 meter x 4,57 meter. Ditenagai oleh turbin uap dengan 2 boiler, 2 shaft yang menghasilkan 30,000 shp sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 28,5 knot. Diawaki oleh maksimal 180 pelaut.

Kemampuan bertahan dan menyerang OWA Class tentunya didukung oleh persenjataan yang mumpuni, diantaranya: 8 Peluru Kendali Permukaan-ke-permukaan McDonnel Douglas RGM-84 Harpoon dengan jangkauan maksimum 130 Km (70 mil laut), berkecepatan 0,9 mach, berpemandu active radar homing dengan hulu ledak seberat 227 Kg. 4 buah Peluru kendali permukaan-ke-udara Mistral dalam peluncur Simbad laras ganda sebagai pertahanan anti serangan udara. Jangkauan efektif 4 Km (2,2 mil laut), berpemandu infra merah dengan hulu ledak 3 Kg.

Berkemampuan anti pesawat udara, helikopter dan rudal. 1 buah Meriam OTO-Melara 76/62 compact berkaliber 76mm (3 inchi) dengan kecepatan tembakan 85 rpm, jangkauan 16 Km untuk target permukaan dan 12 Km untuk target udara. 2 Senapan mesin 12.7mm 12 Torpedo Honeywell Mk. 46, berpeluncur tabung Mk. 32 (324mm, 3 tabung) dengan jangkauan 11 Km kecepatan 40 knot dan hulu ledak 44 kg.

(OWA Class menunjukan taringnya, Menerbitkan kemasygulan bagi jiran yang berniat mengusik NKRI Tercinta)

Berkemampuan anti kapal selam dan kapal permukaan. Terakhir 2 hingga 4 Peluru Kendali anti kapal Yakhont, Vertical Launching System (2 tabung). Rudal ini memiliki spesifikasi: kecepatan mach 2,5, dengan jangkauan sasaran 300 Km, berat 3040 Kg, panjang 8,9 m dan berat hulu ledak 200 Kg.

Yakhont, senjata baru OWA Class Indonesia.

Soal kemampuan OWA Class menggendong rudal yakhont yang terbukti sukses diuji di Samudra Hindia beberapa saat yang lalu pantas menjadi pembicaraan negera antar kawasan. Di Asia Tenggara sejauh ini hanya Indonesia dan Vietnam saja yang mengaktifkan rudal yakhont menjadi bagaian arsenal gaharnya. Hanya saja ada perbedaan yang mendasar, -setidaknya untuk saat ini,- rudal yakhont miliki Vietnam kebanyakan digunakan sebagai pertahanan pantai sehingga mobilitasnya terbatas, sedangkan Yakhont milik Angkatan laut Indonesia memiliki mobilitas yang tinggi karena landasan luncurnya di bawa oleh kapal-kapal perang Indonesia.

Efek yakhont dimasa ini, pada dasarnya sama dengan efek rudal Styx dimasa lalu, OWA Class memang bukan satu-satunya kapal perang yang mampu membawa rudal kelas berat ini, namun berbicara daya angkut untuk rudal bongsor seukuran yakhont, OWA Class mampu menggendong 4 buah sekaligus. Untuk saat ini, jumlah yakhot indonesia sendiri disinyalir puluhan jumlahnya, ini tak lain karna Yakhont sendiri sudah diinstal di 16 KRI yaitu enam pada kapal jenis frigat dan 10 di kapal perang Korvet. Sejauh ini hanya OWA Class yang diketahui membawa rudal maut ala negeri beruang merah itu.

Sumber Rujukan:

Wikipedia Indonesia: KRI Oswald Siahaan.
Indo Militer.
Komando Militer.
Kaskus.

No comments:

Post a Comment