Pertemuan tersebut membahas sejumlah agenda untuk memperkuat kemitraan kedua negara, terutama dalam bidang pertahanan, keamanan maritim, peningkatan kapasitas, serta kerja sama industri dan ekonomi pertahanan. Hal tersebut disampaikan Kementerian Pertahanan RI dalam keterangan resminya.
Pertemuan ini berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas kerja sama pertahanan Indonesia dan Jepang sepanjang 2026. Salah satu perkembangan yang mendapat perhatian adalah dukungan Jepang dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.
Menhan Sjafrie Apresiasi Bantuan Tiga Helikopter Chinook
Dalam pertemuan dengan Dubes Ueno Atsushi, Menhan Sjafrie menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Jepang atas dukungan yang diberikan melalui pengerahan JS Kunisaki yang membawa tiga helikopter CH-47 Chinook.
Kapal tersebut tiba di Terminal Kijing, Kalimantan Barat, pada 10 September 2026. Tiga helikopter Chinook kemudian dipersiapkan untuk mendukung operasi pemadaman karhutla melalui metode water bombing.
Menurut Kemhan RI, dukungan tersebut merupakan bagian dari kerja sama Indonesia-Jepang dalam kerangka Defence Cooperation Arrangement (DCA), khususnya melalui kerja sama Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR).
Kehadiran helikopter Chinook Jepang di Kalimantan tidak dimaksudkan untuk menggantikan kemampuan nasional. Dukungan tersebut diintegrasikan dengan operasi penanganan karhutla yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk menambah kemampuan pemadaman dari udara.
Pada 15 September 2026, Sjafrie juga meninjau langsung JS Kunisaki beserta tiga helikopter CH-47 Chinook di Mempawah. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan apresiasi kepada pihak Jepang atas respons cepat dalam memberikan bantuan.
Kerja Sama Pertahanan Indonesia-Jepang Terus Berkembang
Pertemuan Sjafrie dan Ueno menjadi bagian dari rangkaian hubungan pertahanan Indonesia-Jepang yang semakin intensif sepanjang 2026.
Salah satu tonggak penting terjadi pada 4 Mei 2026, ketika Sjafrie Sjamsoeddin bertemu Menteri Pertahanan Jepang Koizumi Shinjiro di Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara menandatangani Defence Cooperation Arrangement (DCA) yang menjadi kerangka untuk memperkuat kerja sama pertahanan bilateral.
DCA tersebut mencakup sejumlah bidang, antara lain peningkatan kapasitas, pertukaran personel, pendidikan serta pengembangan kerja sama pertahanan yang lebih praktis dan berkelanjutan.
Kerja sama tersebut kemudian terus ditindaklanjuti. Pada Juni 2026, Presiden RI Prabowo Subianto bersama Menhan Sjafrie juga menerima kunjungan Menteri Pertahanan Jepang Koizumi Shinjiro. Dalam pertemuan tersebut dibahas penguatan keamanan maritim, logistik, pemeliharaan, pendidikan serta peluang kerja sama pertahanan dan teknologi.
Keamanan Maritim Menjadi Salah Satu Fokus
Salah satu sektor yang menjadi perhatian dalam hubungan pertahanan kedua negara adalah keamanan maritim.
Indonesia dan Jepang sama-sama memiliki kepentingan terhadap stabilitas kawasan serta keamanan jalur laut. Karena itu, kerja sama pertahanan tidak hanya mencakup aspek militer, tetapi juga peningkatan kapasitas dan hubungan antarlembaga.
Kemhan RI menyebut penguatan kapasitas, kerja sama industri pertahanan serta keamanan maritim sebagai bagian dari agenda yang dibahas dalam pertemuan Menhan Sjafrie dengan Dubes Jepang Ueno Atsushi.
Kerja sama industri pertahanan juga membuka ruang bagi kedua negara untuk membahas pengembangan kemampuan teknologi, pemeliharaan, peningkatan sumber daya manusia dan berbagai bentuk kolaborasi pertahanan lainnya.
Diplomasi Pertahanan Berbuah Kerja Sama Kemanusiaan
Pengiriman JS Kunisaki bersama tiga helikopter CH-47 Chinook untuk membantu penanganan karhutla menjadi salah satu contoh implementasi kerja sama pertahanan yang memiliki dimensi kemanusiaan.
Kemhan RI menyebut dukungan tersebut sebagai bagian dari implementasi diplomasi pertahanan dan DCA Indonesia-Jepang. Dalam pelaksanaannya, personel Jepang berkoordinasi dengan unsur Indonesia, termasuk TNI dan BNPB.
Bantuan tersebut menunjukkan bahwa kerja sama pertahanan kedua negara tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan militer, tetapi juga dapat digunakan untuk mendukung penanganan bencana dan melindungi masyarakat.
Dengan adanya komunikasi yang terus berlangsung antara pejabat pertahanan kedua negara, Indonesia dan Jepang melanjutkan pengembangan kemitraan di sejumlah sektor, mulai dari keamanan maritim, peningkatan kapasitas, pendidikan dan pertukaran personel hingga industri pertahanan.
Pertemuan Menhan Sjafrie dengan Dubes Jepang Ueno Atsushi pada 21 September 2026 menjadi salah satu agenda terbaru dalam rangkaian kerja sama tersebut. Kedua negara selanjutnya akan terus menindaklanjuti berbagai bentuk kerja sama sesuai mekanisme bilateral yang telah disepakati.

No comments:
Post a Comment