Monday, October 12, 2026

PT PAL Perkuat Kemandirian Industri Pertahanan Lewat Frigat Merah Putih dan Kapal Selam Scorpène

 


SURABAYA (MI) : PT PAL Indonesia (Persero) terus memperkuat kemampuan industri pertahanan maritim nasional melalui peningkatan kapasitas manufaktur, rekayasa (engineering), serta penguasaan teknologi. Upaya ini diwujudkan melalui pembangunan kapal perang Frigat Merah Putih KRI Balaputradewa-322 dan program pengadaan kapal selam Scorpène yang melibatkan perusahaan pertahanan asal Prancis, Naval Group.

Kedua program tersebut tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun kemandirian industri pertahanan Indonesia.

Direktur Pemasaran PT PAL Indonesia, Wiyono Komodjojo, menyampaikan bahwa keberhasilan pembangunan alutsista perlu dinilai dari lebih dari sekadar produk akhir. Peningkatan produktivitas, kemampuan manufaktur, penguasaan teknologi, dan kompetensi sumber daya manusia juga menjadi indikator penting.

Hal itu disampaikan Wiyono dalam forum persiapan rapat pleno Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Menurutnya, setiap program pembangunan alutsista harus dapat memberikan nilai tambah bagi industri nasional. Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama proses produksi diharapkan menjadi bekal untuk mengerjakan proyek-proyek pertahanan berikutnya dengan kemampuan yang semakin baik.

Melalui pembangunan Frigat Merah Putih dan program kapal selam Scorpène, PT PAL berupaya memperluas kemampuan dalam bidang manufaktur kapal perang, rekayasa sistem, pengembangan teknologi, serta peningkatan kualitas tenaga ahli dalam negeri.

Wiyono menegaskan bahwa penguatan industri pertahanan membutuhkan peningkatan kapasitas produksi, riset, kualitas sumber daya manusia, dan penguasaan teknologi secara berkelanjutan. Seluruh aspek tersebut harus didukung oleh ekosistem industri yang saling terhubung.

Program Alutsista Jadi Sarana Transfer Pengetahuan dan Teknologi

Pengembangan industri pertahanan tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan pengadaan produk dari luar negeri. Indonesia juga perlu memastikan bahwa setiap program memberikan kesempatan bagi industri nasional untuk meningkatkan kemampuan teknis dan memperluas penguasaan teknologi.

Dalam konteks tersebut, kerja sama PT PAL dengan Naval Group melalui program kapal selam Scorpène menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat kemampuan industri kapal selam nasional. Sementara itu, pembangunan Frigat Merah Putih menjadi kesempatan untuk mengembangkan kapasitas manufaktur dan rekayasa kapal perang di dalam negeri.

Namun, peningkatan kemandirian tetap membutuhkan proses bertahap, investasi jangka panjang, serta pengembangan tenaga ahli dan industri pendukung. Keberhasilan program juga perlu diukur dari sejauh mana kemampuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam proyek-proyek selanjutnya.

Dengan demikian, program pembangunan alutsista diharapkan tidak hanya menghasilkan platform pertahanan baru, tetapi juga memperkuat fondasi industri pertahanan nasional.

Peran KKIP dalam Memperkuat Industri Pertahanan Nasional

Dalam forum persiapan rapat pleno KKIP, PT PAL hadir sebagai perwakilan industri pertahanan maritim untuk memaparkan perkembangan teknologi dan kemampuan manufaktur dalam negeri.

Forum tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai penguatan ekosistem industri pertahanan Indonesia agar lebih terintegrasi dan mampu mendukung transformasi pertahanan berbasis teknologi.

Ke depan, konsistensi kebijakan pemerintah, investasi riset, pengembangan sumber daya manusia, serta keterlibatan industri komponen dalam negeri akan menjadi faktor penting dalam mewujudkan kemandirian industri pertahanan.

Bagi PT PAL, pengembangan frigat dan kapal selam bukan sekadar proyek pembangunan kapal perang, melainkan juga peluang untuk memperkuat kemampuan industri nasional dalam memenuhi kebutuhan pertahanan maritim Indonesia secara berkelanjutan.

No comments:

Post a Comment