JAKARTA (MI) : Indonesia segera memiliki kemampuan baru dalam mengoperasikan kapal berukuran besar untuk mendukung berbagai misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa sebuah kapal induk asal Italia akan segera bergabung ke dalam jajaran TNI Angkatan Laut (TNI AL).
Menariknya, kapal tersebut tidak hanya akan digunakan dalam konteks operasi militer. Pemerintah berencana melakukan refurbishment atau modifikasi agar kapal dapat difungsikan sebagai pangkalan bergerak bagi helikopter sekaligus mendukung pengoperasian drone.
Rencana tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin rapat terbatas mengenai penanganan bencana melalui konferensi video dari Jakarta, Senin.
“Alhamdulillah sebentar lagi kapal induk dari Italia akan masuk ke jajaran Angkatan Laut kita. Itu kita akan refurbish, kita ubah untuk menjadi kapal induk helikopter dan untuk drone,” kata Prabowo dalam siaran langsung Sekretariat Presiden.
Bisa Menampung hingga 10 Helikopter
Menurut Prabowo, kapal tersebut nantinya memiliki kemampuan untuk membawa hingga 10 helikopter kelas menengah. Kemampuan ini dinilai sangat penting, khususnya dalam menghadapi bencana yang membutuhkan pengerahan personel dan peralatan secara cepat.
Salah satu pemanfaatan yang disoroti adalah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Helikopter kelas menengah seperti Black Hawk maupun Mi-17 memiliki kemampuan membawa muatan air dalam jumlah besar. Dalam kondisi tertentu, helikopter tersebut dapat digunakan untuk membantu melakukan pemadaman dari udara pada wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Dengan keberadaan kapal induk yang dapat membawa banyak helikopter, pemerintah nantinya memiliki semacam pangkalan udara bergerak di laut yang bisa dikerahkan mendekati wilayah bencana.
Respons Karhutla Bisa Lebih Cepat
Prabowo menilai keberadaan kapal tersebut dapat mempercepat respons pemerintah ketika terjadi karhutla, terutama apabila kebakaran muncul di wilayah yang memiliki banyak titik api sekaligus.
Dengan membawa hingga 10 helikopter, armada tersebut dapat segera diarahkan ke lokasi yang membutuhkan bantuan.
“Jadi kalau kita punya 10 helikopter bisa segera merapat ke titik api yang terbanyak. Ini juga akan sangat membantu respons kita,” ujar Prabowo.
Konsep tersebut memungkinkan pemerintah memiliki kemampuan untuk mengerahkan sejumlah helikopter dalam satu kelompok operasi tanpa harus selalu bergantung pada pangkalan udara yang berada jauh dari lokasi bencana.
Selain untuk membawa air dalam operasi pemadaman, helikopter juga dapat dimanfaatkan untuk evakuasi korban, pengiriman bantuan logistik, mobilisasi personel, serta misi kemanusiaan lainnya.
Kapal Induk dan Drone untuk Operasi Masa Depan
Selain helikopter, Prabowo juga menyebut kapal tersebut akan dimodifikasi untuk mendukung pengoperasian drone.
Penggunaan drone dapat memberikan kemampuan pemantauan dari udara, terutama untuk melihat kondisi wilayah terdampak bencana, memantau titik api, melakukan pengawasan kawasan yang sulit dijangkau, hingga membantu pengumpulan informasi bagi pengambil keputusan.
Jika konsep ini terealisasi, kapal tersebut berpotensi menjadi salah satu aset strategis Indonesia yang tidak hanya berperan dalam pertahanan, tetapi juga dalam operasi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
Kehadiran kapal dengan kemampuan membawa helikopter dan drone juga dapat memperluas jangkauan operasi TNI AL di wilayah Indonesia yang memiliki kondisi geografis sangat luas dan terdiri dari ribuan pulau.
Prabowo: Mitigasi Tidak Boleh Menunggu Bencana
Dalam rapat tersebut, Prabowo juga menekankan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Menurutnya, pemerintah tidak boleh baru bergerak setelah bencana terjadi.
Berbagai peralatan, personel, hingga sistem respons darurat harus dipersiapkan jauh sebelumnya agar ketika bencana terjadi, pemerintah dapat langsung mengambil tindakan.
“Jadi kita persiapan mengatasi mitigasi, jangan menunggu kejadian. Jauh sebelumnya harus kita siapkan,” kata Prabowo.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah ingin membangun sistem penanganan bencana yang lebih cepat, terintegrasi, dan siap bergerak.
Dengan rencana modifikasi kapal induk Italia menjadi kapal induk helikopter dan drone, Indonesia nantinya tidak hanya mendapatkan sebuah kapal besar, tetapi juga sebuah platform multifungsi yang dapat digunakan untuk mendukung pertahanan sekaligus menghadapi berbagai kondisi darurat, termasuk karhutla dan bencana alam.
Bagi Indonesia yang memiliki wilayah laut sangat luas, kemampuan mengerahkan helikopter dan drone dari sebuah kapal yang dapat bergerak mendekati lokasi bencana tentu dapat menjadi tambahan kemampuan yang sangat berarti.

No comments:
Post a Comment