
JAKARTA (MI) : Kehadiran kapal selam Scorpene buatan Prancis akan membawa kemampuan baru bagi armada bawah laut Indonesia. Namun, untuk mengoperasikan kapal selam generasi baru tersebut, TNI Angkatan Laut (TNI AL) tidak cukup hanya menyiapkan kapalnya.
Sumber daya manusia yang akan mengawaki kapal selam Scorpene juga harus dipersiapkan secara khusus.
Mantan Asisten Perencanaan dan Pertahanan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Asrenal KSAL) Laksamana Madya TNI (Purn) Iwan Isnurwanto menilai, karakteristik dan teknologi Scorpene berbeda dibandingkan kapal selam yang saat ini telah dimiliki Indonesia.
Menurut Iwan, perbedaan tersebut terutama terlihat pada sistem tenaga yang digunakan. Scorpene menggunakan teknologi baterai Lithium-Ion, sebuah teknologi yang belum digunakan pada kapal selam TNI AL sebelumnya.
“Untuk personel pengawak Scorpene kemampuannya berbeda dengan kapal selam TNI AL lain yakni Nagapasa Class dan Cakra Class. Salah satunya karena ada teknologi Lithium-Ion Battery di kapal selam Scorpene sehingga kemampuannya harus disiapkan,” ujar Iwan di Jakarta Selatan.
Baterai Lithium-Ion Jadi Salah Satu Keunggulan Scorpene
Penggunaan baterai Lithium-Ion menjadi salah satu teknologi yang membuat Scorpene memiliki kemampuan berbeda dibandingkan kapal selam generasi sebelumnya.
Teknologi tersebut memungkinkan kapal selam memiliki daya tahan berada di bawah permukaan laut yang lebih lama, dengan estimasi dapat mencapai sekitar 7 hingga 10 hari, tergantung kondisi operasi.
Kapasitas energi yang dimiliki juga disebut jauh lebih besar dibandingkan kapal selam Cakra Class maupun Nagapasa Class.
Selain kapasitas energi yang lebih besar, sistem Lithium-Ion juga memiliki kemampuan pengisian daya yang lebih cepat. Dalam kondisi tertentu, pengisian baterai dapat dilakukan dalam waktu sekitar dua hingga tiga jam.
Keunggulan lainnya adalah kemampuan mempertahankan performa tenaga. Ketika kapasitas baterai mulai berkurang, tenaga yang dihasilkan masih mampu menjaga kapal selam bergerak dengan kecepatan relatif konstan, bahkan ketika kapasitas baterai berada di kisaran 20 persen.
Hal inilah yang membuat sistem pengoperasian Scorpene membutuhkan pemahaman berbeda dari awak kapal selam yang selama ini bertugas di kapal selam TNI AL.
Awak Kapal Tidak Bisa Sekadar Dipindahkan
Iwan menilai, TNI AL perlu menyiapkan calon awak Scorpene jauh sebelum kapal tersebut sepenuhnya siap digunakan.
Salah satu pilihan yang dapat dilakukan adalah mengambil personel berpengalaman dari kapal selam yang sudah dimiliki TNI AL, seperti Nagapasa Class dan Cakra Class, kemudian memberikan pendidikan serta pelatihan khusus mengenai sistem Scorpene.
Dengan demikian, personel yang nantinya bertugas tidak hanya memahami dasar-dasar pengoperasian kapal selam, tetapi juga benar-benar memahami karakteristik teknologi yang digunakan Scorpene.
Iwan sendiri memiliki pengalaman panjang di lingkungan kapal selam. Ia pernah menjabat sebagai komandan kapal selam KRI Cakra-401 dan menjadi bagian dari kru inti KRI Nanggala-402.
Menurutnya, calon awak Scorpene harus mempelajari berbagai aspek, mulai dari sistem teknis kapal, prosedur operasional, penggunaan sistem tenaga, hingga prosedur menghadapi situasi darurat di bawah laut.
Pelatihan juga tidak cukup dilakukan hanya melalui teori.
Calon awak harus mendapatkan latihan praktik sehingga mereka benar-benar terbiasa dengan sistem dan lingkungan kerja kapal selam Scorpene.
Pelatihan Bisa Dilakukan di Indonesia dan Prancis
Salah satu tantangan dalam menyiapkan awak Scorpene adalah menentukan lokasi pelatihan.
Karena kapal selam tersebut dibangun melalui kerja sama PT PAL Indonesia dan Naval Group dari Prancis, proses pelatihan dapat dilakukan melalui on-site training di fasilitas pembangunan kapal.
“Karena dibangunnya di PT PAL, latihannya di mana? On site training-nya di sini yakni PT PAL atau di Prancis selaku asal perusahaan yang memproduksi Scorpene,” jelas Iwan.
Pelatihan langsung di lokasi pembangunan dinilai penting karena calon awak dapat mengenal kapal sejak tahap konstruksi.
Mereka juga dapat memahami konfigurasi sistem, tata letak peralatan, hingga prosedur pengoperasian yang nantinya akan mereka gunakan ketika kapal sudah masuk tahap operasional.
Dengan kata lain, membangun kapal selam saja tidak cukup. TNI AL juga harus membangun kemampuan manusia yang akan mengoperasikannya.
TNI AL Sudah Siapkan Satgas Khusus
Persiapan untuk menyambut kedatangan Scorpene sebenarnya sudah dilakukan oleh TNI AL.
Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali sebelumnya mengatakan bahwa TNI AL telah menyiapkan satuan tugas khusus yang nantinya akan menjalani pelatihan untuk mengoperasikan kapal selam Scorpene.
“Untuk Scorpene ini kita sudah menyiapkan satgasnya, tapi memang belum kita terbitkan surat perintahnya, orang-orangnya sudah kita siapkan,” kata Ali saat ditemui di Kesatriaan Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan.
Persiapan tersebut menunjukkan bahwa TNI AL tidak hanya berfokus pada pembangunan platform kapal, tetapi juga mulai menyiapkan personel yang akan menjadi tulang punggung operasional Scorpene.
PT PAL Juga Menyiapkan Infrastruktur Pendukung
Selain personel, kebutuhan infrastruktur juga menjadi bagian penting dalam program pembangunan Scorpene.
Laksamana Muhammad Ali mengatakan PT PAL juga tengah menyiapkan berbagai fasilitas yang diperlukan untuk mendukung proses pembangunan dan pemeliharaan kapal selam.
Salah satunya adalah fasilitas yang dapat digunakan untuk mengangkat kapal selam dari darat ke laut maupun sebaliknya.
TNI AL juga menugaskan seorang kepala proyek dari internal TNI AL untuk ditempatkan di PT PAL dalam rangka mendukung pembangunan Scorpene.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi antara TNI AL sebagai pengguna kapal, PT PAL sebagai mitra pembangunan di Indonesia, serta Naval Group sebagai perusahaan asal Prancis.
Dibangun di Surabaya, Prosesnya Memakan Waktu Bertahun-tahun
Kapal selam Scorpene Indonesia akan dirakit melalui kerja sama PT PAL Indonesia dan Naval Group di Surabaya.
Proses pembangunan kapal selam bukan pekerjaan sederhana. Dibutuhkan waktu panjang karena di dalamnya terdapat berbagai sistem kompleks yang harus dibangun, dipasang, diuji, dan kemudian disertifikasi sebelum kapal dapat digunakan untuk menjalankan operasi.
KSAL Muhammad Ali menyebut proses pembangunan Scorpene membutuhkan waktu hingga sekitar delapan tahun.
Karena itu, seluruh persiapan harus dilakukan secara matang sejak awal, baik dari sisi teknologi, fasilitas, maupun sumber daya manusia.
Scorpene dan Masa Depan Kekuatan Bawah Laut Indonesia
Kehadiran Scorpene akan menjadi salah satu perkembangan penting dalam modernisasi kekuatan bawah laut Indonesia.
Dengan teknologi baterai Lithium-Ion, kemampuan bertahan di bawah laut yang lebih lama, serta sistem operasional yang lebih modern, Scorpene diharapkan dapat memperkuat kemampuan TNI AL dalam menjaga wilayah perairan Indonesia.
Namun, kecanggihan teknologi tetap membutuhkan manusia yang mampu mengoperasikannya.
Kapal selam secanggih apa pun tidak akan dapat mencapai kemampuan maksimal tanpa awak yang terlatih dan memahami setiap sistem di dalamnya.
Karena itu, persiapan calon awak Scorpene menjadi bagian yang tidak kalah penting dibandingkan pembangunan kapal itu sendiri.
Jika proses pendidikan, pelatihan, pembangunan infrastruktur, dan pembangunan kapal berjalan sesuai rencana, Scorpene nantinya tidak hanya menjadi kapal selam baru bagi Indonesia, tetapi juga menjadi lompatan kemampuan teknologi dan profesionalisme bagi kekuatan bawah laut TNI AL.
Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang sangat luas, kemampuan kapal selam memiliki arti strategis. Scorpene diharapkan menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kedaulatan dan keamanan laut Indonesia di masa mendatang.
No comments:
Post a Comment