OKU TIMUR (MI) : Dentuman roket dan manuver pesawat tempur mewarnai puncak latihan gabungan Super Garuda Shield 2026 di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Martapura, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan.
Dalam latihan yang melibatkan ribuan prajurit dari berbagai negara tersebut, kekuatan militer Indonesia dan Amerika Serikat (AS) dipertontonkan melalui sebuah skenario serangan gabungan yang melibatkan pesawat tempur, helikopter serang, artileri roket hingga sistem roket jarak jauh.
Langit kawasan latihan dipenuhi suara mesin pesawat dan helikopter. F-16 TNI bersama helikopter serang AH-64E Apache bergerak menuju area sasaran yang telah ditentukan dalam skenario latihan.
Dari udara, persenjataan kemudian dilepaskan untuk menghancurkan target yang dianggap sebagai posisi musuh.
F-16 dan Apache Serang dari Udara
Salah satu aksi yang menjadi perhatian dalam puncak latihan adalah pengerahan pesawat tempur F-16 dan helikopter AH-64E Apache.
Keduanya menjalankan misi serangan udara terhadap sasaran di area Puslatpur Martapura.
Tak hanya TNI, militer Amerika Serikat juga mengerahkan AH-64E Apache. Helikopter serang tersebut melakukan serangan secara beruntun menggunakan roket ke objek yang telah ditentukan.
Aksi tersebut memperlihatkan bagaimana serangan udara dapat dikombinasikan dengan kekuatan artileri dan pasukan darat dalam sebuah operasi terpadu.
Astros dan MLRS Vampire Ikut Menggempur
Serangan tidak hanya datang dari udara.
TNI juga mengerahkan sistem artileri roket Astros serta MLRS Vampire untuk menghantam sasaran dalam skenario latihan.
Kehadiran berbagai sistem senjata tersebut membuat Land Joint Strike menjadi salah satu bagian paling menarik dalam rangkaian Super Garuda Shield 2026.
Konsepnya bukan sekadar mengerahkan banyak alutsista secara bersamaan, melainkan mengintegrasikan berbagai kekuatan agar serangan dapat dilakukan secara terkoordinasi dari sejumlah arah.
HIMARS AS Lepaskan Enam Roket
Sementara itu, Amerika Serikat menurunkan salah satu sistem artileri roket yang menjadi andalannya, yaitu High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS).
Dalam latihan tersebut, HIMARS AS meluncurkan enam roket menuju sasaran yang telah ditentukan.
HIMARS dikenal sebagai sistem roket artileri dengan mobilitas tinggi yang dirancang agar dapat berpindah posisi dengan cepat sekaligus memberikan daya gempur dari jarak jauh.
Pengerahan HIMARS bersama F-16, Apache, Astros, MLRS Vampire dan pasukan darat memperlihatkan bagaimana berbagai jenis kekuatan dapat digunakan dalam satu rangkaian operasi.
Land Joint Strike, Serangan dari Berbagai Arah
Komandan Kodiklat TNI Letnan Jenderal (Letjen) Mohamad Naudi Nurdika yang mewakili Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto mengatakan, puncak latihan Super Garuda Shield 2026 merupakan bagian dari skenario Land Joint Strike.
Menurut Nurdika, latihan tersebut menggambarkan operasi gabungan yang melibatkan berbagai matra dari sejumlah negara peserta.
“Dalam latihan ini melaksanakan serangan terkoordinasi dan terintegrasi menggunakan berbagai platform militer seperti pesawat tempur, kapal perang, artileri dan pasukan darat dalam satu operasi terpadu,” kata Nurdika, Senin (7/9/2026).
Konsep tersebut menekankan kemampuan pasukan untuk menggabungkan kekuatan udara, laut dan darat dalam satu rantai operasi.
Dengan demikian, setiap unsur tidak bekerja sendiri-sendiri, tetapi saling memberikan dukungan untuk mencapai sasaran yang sama.
Mengandalkan Teknologi dan Komunikasi Real Time
Menurut Nurdika, Land Joint Strike juga memanfaatkan teknologi militer modern, termasuk sistem komunikasi dan rantai komando yang sistematis.
Teknologi tersebut memungkinkan koordinasi serangan dilakukan secara real time, sehingga berbagai unsur militer yang berada di lokasi berbeda dapat bergerak berdasarkan informasi dan perintah yang terintegrasi.
“Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas dan kemampuan koordinasi antar pasukan dari berbagai negara dalam operasi militer yang kompleks,” ujarnya.
Ia menambahkan, joint strike dilakukan secara simultan dari berbagai arah dengan menggunakan berbagai jenis kekuatan untuk menghasilkan efek maksimal terhadap sasaran.
Kemampuan seperti inilah yang menjadi salah satu tujuan utama latihan gabungan. Prajurit dari negara berbeda harus mampu berkomunikasi, memahami prosedur operasi, serta mengoperasikan berbagai sistem dalam satu skenario yang sama.
Diikuti 21 Negara
Super Garuda Shield 2026 sendiri diikuti 4.743 personel militer dari 21 negara.
Latihan berlangsung mulai 31 Agustus hingga 11 September 2026.
Ke-21 negara peserta tersebut adalah Indonesia, Amerika Serikat, Australia, Belanda, Brasil, Brunei Darussalam, India, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kamboja, Kanada, Korea Selatan, Laos, Selandia Baru, Perancis, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam.
Keterlibatan banyak negara tersebut menjadikan Super Garuda Shield bukan hanya latihan militer antara Indonesia dan Amerika Serikat, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkuat kerja sama pertahanan dengan berbagai negara mitra.
Perkuat Posisi Indonesia di Indo-Pasifik
Nurdika mengatakan, latihan tersebut merupakan bagian dari komitmen TNI untuk memperkuat kemitraan strategis dan diplomasi pertahanan.
“Kegiatan ini merupakan wujud komitmen TNI dalam memperkuat kemitraan strategis, mendukung diplomasi pertahanan, dan menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik,” ungkap Nurdika.
Dengan melibatkan ribuan personel dan berbagai jenis alutsista modern, Super Garuda Shield 2026 sekaligus menjadi ajang untuk menguji kemampuan interoperabilitas antarnegara.
Dari Puslatpur Martapura, OKU Timur, berbagai kekuatan tempur ditampilkan dalam satu skenario besar: pesawat tempur menyerang dari udara, Apache memburu sasaran dari ketinggian rendah, sementara sistem roket dan artileri menghantam target dari darat.
Latihan tersebut memberikan gambaran bagaimana perang modern semakin mengandalkan kecepatan informasi, koordinasi lintas matra, teknologi, serta kemampuan pasukan dari berbagai negara untuk beroperasi dalam satu komando dan tujuan yang sama.

No comments:
Post a Comment