JAKARTA (MI) : Modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI terus dilakukan pemerintah untuk memperkuat kemampuan pertahanan Indonesia. Salah satu program strategis tersebut adalah pengadaan jet tempur Rafale dari Prancis yang akan memperkuat jajaran TNI Angkatan Udara (TNI AU).
Wakil Kepala Staf TNI AU (Wakasau) Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi mengatakan kedatangan pesawat tempur Rafale akan dilakukan secara bertahap. Proses pengiriman armada tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga 2029.
Menurut Tedi, pada tahap berikutnya Indonesia dijadwalkan kembali menerima 18 unit Rafale secara bertahap.
“Di tahun depan, kita akan kedatangan lagi 18 secara bertahap. Secara bertahap sampai dengan diperkirakan di tahun 2029,” ujar Tedi.
Meski belum menjelaskan secara rinci jadwal kedatangan gelombang berikutnya, Tedi memastikan TNI AU terus menyiapkan berbagai fasilitas yang dibutuhkan untuk mendukung pengoperasian dan pemeliharaan pesawat tempur buatan Dassault Aviation tersebut.
Kesiapan tersebut salah satunya ditunjukkan melalui pengoperasian Rafale yang saat ini ditempatkan di Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau.
Indonesia Pesan 42 Rafale
Indonesia secara keseluruhan telah memesan 42 unit jet tempur Rafale dari perusahaan pertahanan asal Prancis, Dassault Aviation. Pengadaan tersebut dilakukan dalam beberapa tahap.
Kontrak tahap ketiga yang mencakup 18 unit Rafale terakhir telah dinyatakan efektif. Dengan demikian, seluruh pesanan 42 pesawat akan menjadi bagian dari rencana penguatan kekuatan udara Indonesia.
Hingga saat ini, TNI AU telah menerima enam unit Rafale. Tiga pesawat pertama tiba di Indonesia pada awal 2026, kemudian tiga unit berikutnya menyusul pada Mei 2026.
Kedatangan gelombang kedua tersebut bahkan disambut langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Penambahan armada Rafale tidak hanya berkaitan dengan kedatangan pesawat, tetapi juga membutuhkan kesiapan pangkalan, fasilitas pemeliharaan, personel, serta berbagai infrastruktur pendukung lainnya.
Karena itu, pengoperasian enam Rafale yang sudah diterima TNI AU menjadi bagian penting dari proses persiapan sebelum kedatangan pesawat-pesawat berikutnya.
Untuk Memperkuat Daya Tangkal Pertahanan
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan bahwa peningkatan kemampuan pertahanan Indonesia merupakan bagian dari upaya menjaga kedaulatan dan wilayah nasional.
Menurut Prabowo, kekuatan pertahanan diperlukan sebagai daya tangkal (deterrent) di tengah situasi geopolitik dunia yang semakin tidak menentu.
Pemerintah, kata Prabowo, tidak memiliki kepentingan untuk mengancam negara lain. Penguatan pertahanan dilakukan untuk memastikan Indonesia mampu menjaga wilayah dan kedaulatannya sendiri.
“Kita harus terus tingkatkan kekuatan pertahanan kita sebagai penangkal. Kita tidak punya kepentingan selain untuk menjaga wilayah kita sendiri,” kata Prabowo.
Presiden juga menegaskan bahwa pembangunan kekuatan pertahanan akan terus dilakukan secara menyeluruh, baik di sektor udara, laut maupun darat.
“Kita ingin mengamankan wilayah udara, wilayah laut, dan tentunya wilayah daratan kita,” ujarnya.
Dengan masuknya Rafale secara bertahap, TNI AU diproyeksikan memiliki kemampuan tempur yang semakin modern. Kehadiran 42 jet tempur tersebut sekaligus menjadi salah satu bagian penting dari upaya Indonesia memperbarui kekuatan udara nasional di tengah perkembangan teknologi dan dinamika keamanan kawasan.
,_2026.jpg)
No comments:
Post a Comment