Tuesday, September 15, 2026

Indonesia Ditawari Kapal Selam Interim dari Sejumlah Negara, TNI AL Siapkan Kekuatan Bawah Laut

JAKARTA (MI) : Indonesia tengah mendapat tawaran pengadaan kapal selam interim dari sejumlah negara. Tawaran tersebut menjadi salah satu opsi untuk memperkuat kemampuan pertahanan bawah laut Indonesia sembari menunggu kapal selam baru selesai dibangun.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali mengungkapkan, beberapa negara telah menawarkan kapal selam kepada Indonesia.

Ada beberapa negara yang sudah menawarkan, dan bisa jadi kita akan membeli dari beberapa negara yang sudah menawarkan itu,” ujar Muhammad Ali di Auditorium Yos Sudarso, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Cipulir, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Kapal selam interim merupakan kapal selam yang digunakan untuk mengisi kebutuhan sementara, terutama selama proses pembangunan kapal selam baru masih berlangsung.

TNI AL Perkuat Kekuatan Perang Bawah Laut

Meski mengungkap adanya tawaran dari beberapa negara, KSAL belum menyebutkan secara rinci negara mana saja yang menawarkan kapal selam kepada Indonesia.

Di sisi lain, TNI Angkatan Laut juga tengah menyiapkan sejumlah konsep untuk memperkuat kemampuan operasi bawah laut.

Salah satunya adalah rencana pengembangan kapal selam tanpa awak atau kapal selam otonom (KSOT) yang akan dilakukan bersama PT PAL Indonesia.

Menurut Muhammad Ali, penggunaan kapal selam otonom memiliki potensi untuk memberikan kemampuan tambahan dengan konsep operasi yang lebih efektif dan efisien.

Selain kapal selam konvensional dan kapal selam otonom, TNI AL juga mempertimbangkan pengadaan midget submarine atau kapal selam berukuran kecil.

Mungkin juga kita akan mengadakan kapal selam jenis itu,” kata Ali.

Berbagai opsi tersebut menjadi bagian dari upaya TNI AL untuk menjaga sekaligus meningkatkan kekuatan pertahanan laut Indonesia, khususnya di sektor peperangan bawah laut.

Namun, keputusan akhir mengenai pengadaan alutsista tersebut tetap berada di tangan pemerintah melalui Kementerian Pertahanan.

Jadi hal-hal itu sangat memungkinkan, tapi keputusannya semua berada di Kementerian Pertahanan,” ujar Ali.

Menunggu Kapal Selam Scorpène

Rencana pengadaan kapal selam interim tidak terlepas dari proses pembangunan kapal selam Scorpène yang membutuhkan waktu cukup panjang.

Pembangunan kapal selam tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 7–8 tahun. Selama proses tersebut berlangsung, Indonesia membutuhkan solusi untuk menjaga kekuatan armada kapal selam.

Saat ini, TNI AL disebut memiliki empat kapal selam, terdiri dari satu kapal selam kelas Cakra dan tiga kapal selam kelas Nagapasa.

Dan selama delapan tahun kekosongan ini, kita hanya memiliki empat kapal selam. Yaitu satu kelas Cakra, kemudian yang tiga kelas Nagapasa,” jelas Muhammad Ali.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan munculnya opsi kapal selam interim. Dengan adanya kapal selam sementara, kekuatan bawah laut Indonesia diharapkan tetap dapat terjaga sambil menunggu kapal selam generasi berikutnya selesai dibangun.

Tidak Hanya Kapal Selam Konvensional

Jika seluruh rencana tersebut direalisasikan, penguatan kekuatan bawah laut Indonesia ke depan tidak hanya mengandalkan kapal selam konvensional.

Pengembangan kapal selam otonom (KSOT) serta kemungkinan pengadaan midget submarine menunjukkan adanya opsi untuk membangun kemampuan bawah laut dengan berbagai jenis platform.

Meski demikian, seluruh rencana tersebut masih membutuhkan keputusan dan proses pengadaan dari pemerintah.

Untuk saat ini, kapal selam interim menjadi salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan Indonesia untuk mengisi kebutuhan kekuatan bawah laut selama menunggu kapal selam Scorpène selesai dibangun.

No comments:

Post a Comment