Wednesday, October 29, 2025

Rusia Tegaskan Kontrak Pembelian Sukhoi Su-35 oleh Indonesia Belum Dibatalkan

 

Pesawat Sukhoi Su 35

Jakarta (MI) : Rusia akhirnya angkat bicara mengenai nasib kontrak pembelian jet tempur Sukhoi Su-35 oleh Indonesia. Pemerintah Moskow menegaskan bahwa perjanjian bernilai US$ 1,14 miliar untuk 11 unit jet tempur tersebut belum dibatalkan, melainkan masih menunggu keputusan resmi dari Jakarta.

“Situasinya masih sama. Kesepakatan ini belum dibatalkan, hanya tertunda,” ujar Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Sergei G. Tolchenov, dalam konferensi pers di kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (29/10/2025).

Tolchenov menambahkan, Rusia masih menanti langkah lanjutan dari Pemerintah Indonesia terkait kelanjutan negosiasi kontrak yang telah ditandatangani sejak beberapa tahun lalu.

Latar Belakang Kontrak Sukhoi Su-35

Kontrak pembelian Sukhoi Su-35 antara Indonesia dan Rusia sebenarnya telah diteken sejak Februari 2018. Namun hingga kini, realisasinya belum terlaksana. Penundaan tersebut terjadi karena Indonesia mempertimbangkan risiko terkena sanksi dari Amerika Serikat, yang melarang negara mitranya membeli alutsista buatan Rusia.

Pada 2021, TNI Angkatan Udara kemudian mengalihkan fokus pengadaan pesawat tempur ke Rafale asal Prancis dan F-15EX buatan Amerika Serikat. Langkah ini dianggap sebagai upaya diversifikasi kerja sama militer sekaligus menghindari potensi tekanan politik dari Washington.


Belanja Pertahanan Era Presiden Prabowo

Pernyataan Rusia kali ini muncul di tengah gencarnya program modernisasi alutsista di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Dalam tahun pertamanya menjabat, Indonesia menandatangani kontrak besar pembelian 48 jet tempur KAAN (sebelumnya dikenal sebagai TF-X) buatan Turki, dengan nilai mencapai US$ 10 miliar.

Pesawat generasi kelima tersebut saat ini masih dalam tahap pengembangan dan dijadwalkan melakukan uji terbang pertama pada April 2026. Menariknya, kerja sama ini juga membuka peluang produksi komponen KAAN di Indonesia, yang menjadi bagian dari transfer teknologi dan peningkatan kemampuan industri pertahanan nasional.

Selain KAAN, Indonesia juga telah memesan 42 unit jet tempur Rafale dari Dassault Aviation (Prancis). Tiga unit pertama dijadwalkan tiba pada Februari 2026, disusul pengiriman tahap kedua pada April 2026, dan sisanya akan dikirim secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.

Jet Tempur Cina Masuk dalam Pertimbangan

Tidak hanya dari Barat, Indonesia juga melirik opsi dari Timur. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin baru-baru ini memberi sinyal bahwa Indonesia akan segera mendatangkan jet tempur Chengdu J-10C dari Cina.

“Sebentar lagi (J-10C) terbang di Jakarta,” ujarnya saat ditemui di kantor Kementerian Pertahanan, Rabu (15/10/2025).

Meski belum menyebut jumlah maupun waktu kedatangannya, pernyataan ini memperkuat indikasi bahwa Indonesia sedang memperluas jaringan kerja sama pertahanan dengan berbagai negara.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan juga menyatakan bahwa pemerintah tengah mengkaji kemungkinan integrasi J-10 dalam sistem pertahanan nasional. Menurutnya, Indonesia sebagai negara non-aliansi memiliki kebebasan untuk menjalin kerja sama dengan siapa pun, selama mendukung kepentingan strategis nasional.

Anggaran dan Spesifikasi J-10

Kementerian Keuangan disebut telah menyiapkan anggaran sebesar US$ 9 miliar atau sekitar Rp 148 triliun untuk kebutuhan pengadaan alutsista, termasuk kemungkinan pembelian jet tempur baru.

“Saya masih melakukan pengecekan apakah impor dilakukan tahun depan atau tidak,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Sebagai informasi, Chengdu J-10 dikenal sebagai jet tempur multirole generasi keempat yang kerap dibandingkan dengan F-16 Fighting Falcon buatan Lockheed Martin. Selain digunakan oleh Cina, pesawat ini juga menjadi andalan Angkatan Udara Pakistan.

No comments:

Post a Comment