Saturday, November 29, 2014

LAPAN Bikin Satelit, Pesawat Komersial Hingga Tanpa Awak

//images.detik.com/content/2014/11/27/1036/drone.jpg

Bogor (MI) : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah memasuki usia 51 tahun. Pada usia yang telah menginjak setengah abad ini, LAPAN tidak berhenti berinovasi menghasilkan produk kedirgantaraan, satelit hingga roket berteknologi tinggi.

Untuk bidang penerbangan, tahap awal LAPAN akan membidik pembuatan pesawat komersial untuk angkutan udara perintis. LAPAN bersama PT Dirgantara Indonesia (Persero), saat ini sedang membangun pesawat penumpang untuk 19 tempat duduk bernama N219.

"Kami ingin kembangkan pesawat unggulan. Dengan PTDI, LAPAN kembangkan pesawat N219. Tahun depan atau 10 Agustus 2015, bertepatan dengan Harteknas (Hari Kebangkitan Teknologi Nasional), N219 bisa roll out kemudian akhir 2015 bisa uji coba terbang," kata Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin saat peringatan hari ulang tahun LAPAN ke-51 di Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/11/2014).

LAPAN juga akan terus melanjutkan pengembangan pesawat tanpa awak atau program LAPAN Surveillance UAV (LSU). Setidaknya LAPAN telah merancang 5 tipe LSU yang bisa dipakai misi pengawasan laut.

"Kita kembangkan pesawat tanpa awak atau UAV. Dalam kapanye Pak Jokowi, akan kembangkan drone. Kita sudah kembangkan itu (UAV)," jelasnya.

Inovasi LAPAN tidak berhenti disitu. LAPAN masuk ke teknologi pengembangan satelit. LAPAN akan meluncurkan satelit A2 yang memiliki kemampuan mengidentifikasi ribuan kapal di perairan Indonesia karena dilengkapi peralatan Automatic Identification System (AIS).

"Tahun depan akan diluncurkan LAPAN A2. Itu bisa deteksi kapal dalam waktu singkat. Lapan ke depan ingin bangun kemandirian satelit. Selama ini teknologi satelit masih pakai teknologi luar. Nanti Indonesia harus mandiri. Kita mulai bangun satelit penginderaaan jarak jauh untuk melihat potensi sumberdaya alam. Ke depan untuk bangun satelit telekomunikasi," jelasnya.

Untuk mendukung program pengembangan dan kemendarian satelit, LAPAN secara konsisten mengembangkan roket untuk meluncurkan satelit.

"Kita kembangkan roket, kita kembangkan roket peluncuran satelit," jelasnya.


RI Punya Ribuan Pulau, LAPAN Bikin Pesawat Penumpang Amfibi Pertama


Indonesia merupakan negara maritim yang dikelilingi ribuan pulau kecil hingga besar. Untuk menghubungkan wilayah tersebut, diperlukan moda transportasi yang andal dan cepat.

Selain armada laut, angkutan udara sangat diperlukan karena bisa menembus cuaca buruk saat kapal laut tidak berlayar. Melihat potensi itu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bersama PT Dirgantara Indonesia (Persero) merancang pesawat berbadan ringan dan lincah, N219.

Pesawat yang akan disertifikasi pada tahun 2016 ini nantinya akan ditingkatkan atau dikembangkan untuk menjadi pesawat amfibi. Artinya armada N219 ke depan bisa mendarat tidak hanya pada ladasan tanah melainkan landasan di atas air, seperti sungai hingga laut. Pesawat tipe ini diklaim yang pertama kali dirancang oleh insinyur RI.

“N219 saat sertifikasi, maka pesawat N219 amphibi mulai dikembangkan. Kita pararel. Nantinya ini yang pertama kali kita kembangkan pesawat tipe amfibi,” kata Kepala Program Pesawat Terbang LAPAN Agus Aribowo kepada detikFinance di Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Bogor, Jawa Barat seperti dikutip Jumat (28/11/2014).

Konsep burung besi yang bisa mendarat di atas air ini sangat membantu percepatan pergerakan barang dan orang, di tengah keterbatasan infrastruktur bandara. Pesawat amfibi ini bisa menjangkau pulau-pulau eksotis Indonesia yang masih minim infrastuktur.

“Kita punya banyak pantai yang jadi wilayah wisata tapi nggak tersentuh maka dengan pesawat amfibi kita bisa tingkatkan konektifitas,” ujarnya.

N219 versi amphibi mulai dikembangkan pada awal 2016 hingga 2018. Secara kemampuan dan tipe, pesawat amphibi mirip dengan N219 versi darat. Perbedaanya hanya kemampuan untuk mendarat di landasan berbeda.

“Bahan sama, hanya pelampung yang harus kita desain baru. Ini kita tawarkan ke pemerintah. Kalau oke tinggal jalan,” jelasnya.

N219 versi amfibi ke depan mampu membawa 19 penumpang dengan jangkauan maksimum 1.500 kilometer. Pesawat ini membutuhkan landasan di atas air sepanjang 600 meter untuk take off dan landing. Saat mulai diproduksi, N219 versi amphibi dibandrol sekitar US$ 3,8 juta hingga US$ 4,2 juta per unit.


























Sumber : Detik

No comments:

Post a Comment